Minggu, 27 September 2026

Menemukan Kedewasaan di Muara Rokan:

 Mengulas Realisme Subkultur dalam Novel 'Dermaga Masing-masing' Karya Gandi Gonakovic



BAGANSIAPIAPI — Industri sastra kontemporer Indonesia kembali diperkaya dengan lahirnya karya terbaru fiksi coming-of-age bertajuk Dermaga Masing-masing (2026). Ditulis oleh Gandi Gonakovic dan diterbitkan oleh CV Nimetler Mediatama (https://www.nimetlermediatama.com/), novel ini berhasil menjembatani dua realitas subkultur yang kontras: keliaran jalanan remaja urban Surabaya dan keteguhan hidup masyarakat pesisir di muara Sungai Rokan, Bagansiapiapi, Riau.

Cerita berfokus pada dinamika hidup Andi, seorang kapten geng motor yang harus berbenturan dengan rigidnya dunia militer saat jatuh hati pada Dyah Ayu Kirana, seorang putri perwira TNI AL. Konflik mencapai puncaknya ketika takdir memisahkan mereka ke dua dermaga yang berbeda—Akpol Magelang dan nestapa Drop Out dari Fakultas Hukum akibat krisis finansial. Pelarian Andi menggunakan kapal kargo menuju tanah kelahiran di Rokan Hilir menjadi simbol dari pencarian eksistensial dan ketahanan mental.

Novel ini tidak sekadar menawarkan romansa remaja, melainkan sebuah potret sosiologis yang matang mengenai harga diri, benturan kelas, dan loyalitas lintas budaya. Bagi para pengkaji sastra dan akademisi, Dermaga Masing-masing menyajikan materi yang kaya untuk dibedah melalui kacamata strukturalisme genetik maupun psikologi sastra. Karya ini menjadi bukti autentik bagaimana lokalitas daerah seperti Bagansiapiapi mampu diangkat menjadi latar pencarian jati diri yang magis dan mendalam.

------------------------------


 


BAB 2

Selamat Pagi, I-C!

 

     Senin pagi berikutnya, suasana di SMA Hang Tuah Jalan Lumba-Lumba jauh lebih khidmat. Tidak ada lagi yel-yel aneh atau atribut kardus khas MOS. Ratusan siswa berdiri rapi dalam barisan yang lurus di lapangan utama untuk mengikuti upacara bendera pertama di semester baru.

     Di atas podium, Kepala Sekolah, Pak Fakih Harianto, berdiri dengan gagah. Pakaian dinasnya rapi tanpa lipatan keliru, dan kacamata berbingkai tipis miliknya berkilau diterpa matahari pagi. Suaranya yang berat membelah keheningan lapangan melalui pengeras suara.

     "Kalian bukan lagi anak-anak SMP yang manja," tegas Pak Fakih dalam amanatnya. "Di SMA Hang Tuah Jalan Lumba-Lumba, kedisiplinan adalah napas kita. Masa depan kalian ditentukan oleh apa yang kalian mulai hari ini. Jaga kehormatan diri, patuhi aturan, dan ukir prestasi!"

     Aku yang berdiri di barisan tengah mencuri pandang ke arah barisan perempuan. Benar saja, beberapa meter di sebelah kananku, Dyah Ayu Kirana berdiri dengan sikap sempurna. Dagunya terangkat, pandangannya lurus ke depan, seolah-olah amanat Pak Fakih adalah perintah operasi militer yang siap ia laksanakan kapan saja. Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil.

     Begitu upacara dibubarkan, riuh rendah suara murid langsung pecah. Semua orang berbondong-bondong menuju papan pengumuman besar di selasar tengah untuk melihat pembagian kelas permanen. Aku harus kembali menggunakan teknik selap-selipku hingga berhasil menembus barisan depan.

     "I-C... I-C... nah!" Aku meneliti daftar nama di kertas tersebut. Mataku membelalak gembira saat menemukan namaku, namun kegembiraan itu berubah menjadi senyum penuh arti saat melihat nama yang tertulis tepat tiga baris di bawah namaku: Dyah Ayu Kirana.

     "Takdir memang suka bercanda," gumamku riang.

     Aku segera berbalik dan melangkah menuju ruang kelas I-C yang terletak di lantai satu, tak jauh dari taman sekolah. Saat aku melangkah masuk melalui pintu kayu bercat hijau, ruangan itu sudah cukup ramai. Aroma penghapus papan tulis dan wangi minyak wangi remaja bercampur di udara.

     Di barisan belakang, atmosfernya sangat hidup. Ada Triono, cowok bertubuh kerempeng yang langsung sibuk membagikan permen mint kepada siapa saja yang lewat di dekat mejanya. Di sebelahnya, Agus sedang asyik bercerita dengan volume suara yang agak berlebihan, membuat Kujang—yang sesekali menimpali dengan logat daerahnya yang sangat kental—tertawa terpingkal-pingkal. Sementara itu, Inflaq, Alfin, Awaludin, Lukman, dan Firman tampak kompak bergotong royong menggeser dan menyusun meja-meja kayu agar barisannya terlihat lebih rapi demi kenyamanan mengobrol nanti.

     Aku berjalan ke arah mereka, melempar tasku ke salah satu kursi kosong di baris ketiga. "Woi, salam kenal semuanya! Aku Andi," sapaku santai, yang langsung disambut uluran permen dari Triono dan anggukan ramah dari yang lain.

     Aku kemudian membalikkan badan, memperhatikan area depan kelas di mana para siswi mulai berkumpul. Di dekat meja guru, ada Herlinda, seorang putri Bugis yang berwajah tegas namun anggun. Ia sedang berbicara dengan volume yang cukup lantang dan blak-blakan, membuat Rr Retno yang berpenampilan lemah lembut tersenyum malu-malu. Di sebelah mereka, Erna yang tampak ramah sedang sibuk menawarkan tisu kepada teman-teman barunya.

     Dan di sudut paling kanan dekat jendela, duduklah sang putri perwira. Dyah Ayu Kirana sudah mengamankan tempat duduknya. Di atas mejanya hanya ada sebuah kotak pensil rapi dan buku catatan dorengnya yang ikonik. Ia duduk tegap, memperhatikan ruangan dengan pandangan mengobservasi.

     Tok! Tok! Tok!

     Ketukan di pintu kelas seketika menghentikan seluruh keriuhan. Langkah kaki yang teratur terdengar mendekati meja guru. Seorang pria paruh baya berkemeja batik rapi dengan senyum hangat namun berwibawa masuk ke dalam kelas. Beliau membawa sebuah buku absen tebal dan sebuah penggaris kayu panjang.

     "Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua, anak-anakku," sapa pria itu, suaranya terdengar ramah namun berkarakter.

     "Pagi, Paaaak!" sahut seisi kelas I-C serempak.

     Beliau meletakkan bukunya, lalu menuliskan sebuah nama di papan tulis dengan tulisan tangan yang sangat rapi: Pak Ketut.

     "Saya Pak Ketut. Saya adalah wali kelas kalian di I-C ini selama satu tahun ke depan. Selain menjadi orang tua kalian di sekolah, saya juga yang akan mengajar kalian mata pelajaran Bahasa Indonesia," ujar Pak Ketut sambil memandang satu per satu wajah muridnya. "Karena ini kelas Bahasa Indonesia, saya ingin kelas ini menjadi kelas yang paling tertib, paling kreatif, dan yang terpenting: santun dalam bertutur kata. Setuju?"

     "Setujuuu!" jawab murid-murid kompak.

     "Baik, mari kita mulai dengan perkenalan agar kita saling mengenal. Kalau saya panggil namanya, silakan berdiri dan perkenalkan diri secara singkat," kata Pak Ketut sambil membuka buku absen tebalnya. "Kita mulai dari yang pertama... Alfin?"

     Alfin berdiri, memperkenalkan diri dengan gugup, disusul oleh Agus Siswanto yang sempat melontarkan lelucon kecil hingga membuat seisi kelas tertawa. Hingga akhirnya, Pak Ketut membaca namaku.

     "Andi Gunawan Riotallo?"

     Aku langsung berdiri dengan gaya santai. Aku memasukkan satu tanganku ke dalam saku celana abu-abuku, lalu tersenyum lebar ke sekeliling kelas. "Halo semua, selamat pagi! Nama saya Andi Gunawan Riotallo. Panggil saja Andi. Hobi saya berorganisasi, main basket, sepak bola, dan yang paling penting... mencairkan suasana kelas yang kaku."

     Sambil mengucapkan kalimat terakhir, aku sengaja mengarahkan pandanganku langsung ke sudut kelas, tepat ke arah Dyah.

     Dyah yang merasa disindir hanya mendengus pelan. Ia melipat kedua tangannya di depan dada lalu membuang muka ke arah jendela, mengabaikan senyuman usilku.

     Triono yang duduk di barisan belakang langsung menyahut spontan, "Mencairkan suasana atau suka bikin rusuh, Ndi? Hati-hati Pak Ketut, mukanya muka provokator itu!"

     Seketika seisi kelas I-C meledak dalam tawa. Kujang Khusaini sampai memukul-mukul meja karena terhibur.

      "Sudah, sudah, jangan menggoda teman baru kalian," lerai Pak Ketut sambil terkekeh pelan, menenangkan kelas dengan lambaian tangannya. "Terima kasih, Andi. Silakan duduk kembali. Nah, kita lanjutkan... Dyah Ayu Kirana?"

     Dyah langsung berdiri dengan gerakan yang luar biasa sigap. Kedua tangannya lurus menjulur di samping jahitan rok abu-abu layaknya posisi siap sempurna dalam baris-berbaris.

     "Selamat pagi, Pak Ketut. Selamat pagi, teman-teman," ujar Dyah. Suaranya lantang, jelas, dan tanpa ragu sedikit pun. "Nama saya Dyah Ayu Kirana. Panggil saja Dyah. Saya berharap kita semua bisa bekerja sama dengan baik untuk menjaga nama baik, ketertiban, dan prestasi kelas I-C ini ke depannya. Terima kasih."

     Herlinda, si putri Bugis yang duduk tak jauh dari sana, langsung menyenggol lengan Rr Retno Ayu Wulandari. "Ih, tegas sekali dia punya gaya bicara ya? Betul-betul macam komandan upacara di lapangan tadi," bisik Herlinda dengan logatnya yang khas.

     Retno hanya mengangguk pelan sambil tersenyum kagum. "Iya, kelihatan pintar dan disiplin sekali."

     Pak Ketut mengangguk-angguk puas, memberikan apresiasi lewat senyuman bangganya. "Luar biasa, perkenalan yang sangat tegas dan penuh semangat dari Dyah. Nah, Andi..." Pak Ketut melirik ke arahku yang sedang menopang dagu. "Kamu dengar itu? Tampaknya kamu harus belajar banyak soal ketegasan, kedisiplinan, dan kesantunan dari Dyah agar tidak cuma bisa mencairkan suasana saja."

     Aku spontan meringis lebar. Lalu menggaruk tengkukku yang sama sekali tidak gatal sambil menatap Dyah yang kini sedang melirikku dengan senyum kemenangan yang sangat tipis—hampir tak terlihat jika aku tidak memperhatikannya dengan jeli.

     Aku bersandar di kursi, menatap papan tulis dengan semangat yang mendadak meluap-luap. Satu tahun ke depan di kelas I-C bersama wali kelas seperti Pak Ketut, teman-teman baruku yang ajaib, dan si putri perwira yang tangguh ini, dipastikan akan menjadi petualangan SMA yang tidak akan pernah kulupakan.

------------------------------