Minggu, 27 September 2026
Menemukan Kedewasaan di Muara Rokan:
BAB
2
Selamat
Pagi, I-C!
Senin pagi berikutnya, suasana di SMA Hang
Tuah Jalan Lumba-Lumba jauh lebih khidmat. Tidak ada lagi yel-yel aneh atau
atribut kardus khas MOS. Ratusan siswa berdiri rapi dalam barisan yang lurus di
lapangan utama untuk mengikuti upacara bendera pertama di semester baru.
Di atas podium, Kepala Sekolah, Pak Fakih
Harianto, berdiri dengan gagah. Pakaian dinasnya rapi tanpa lipatan keliru, dan
kacamata berbingkai tipis miliknya berkilau diterpa matahari pagi. Suaranya
yang berat membelah keheningan lapangan melalui pengeras suara.
"Kalian bukan lagi anak-anak SMP yang
manja," tegas Pak Fakih dalam amanatnya. "Di SMA Hang Tuah Jalan
Lumba-Lumba, kedisiplinan adalah napas kita. Masa depan kalian ditentukan oleh
apa yang kalian mulai hari ini. Jaga kehormatan diri, patuhi aturan, dan ukir
prestasi!"
Aku yang berdiri di barisan tengah mencuri
pandang ke arah barisan perempuan. Benar saja, beberapa meter di sebelah
kananku, Dyah Ayu Kirana berdiri dengan sikap sempurna. Dagunya terangkat,
pandangannya lurus ke depan, seolah-olah amanat Pak Fakih adalah perintah
operasi militer yang siap ia laksanakan kapan saja. Aku menggelengkan kepala
sambil tersenyum kecil.
Begitu upacara dibubarkan, riuh rendah
suara murid langsung pecah. Semua orang berbondong-bondong menuju papan
pengumuman besar di selasar tengah untuk melihat pembagian kelas permanen. Aku
harus kembali menggunakan teknik selap-selipku hingga berhasil menembus barisan
depan.
"I-C... I-C... nah!" Aku
meneliti daftar nama di kertas tersebut. Mataku membelalak gembira saat
menemukan namaku, namun kegembiraan itu berubah menjadi senyum penuh arti saat
melihat nama yang tertulis tepat tiga baris di bawah namaku: Dyah Ayu Kirana.
"Takdir memang suka bercanda,"
gumamku riang.
Aku segera berbalik dan melangkah menuju
ruang kelas I-C yang terletak di lantai satu, tak jauh dari taman sekolah. Saat
aku melangkah masuk melalui pintu kayu bercat hijau, ruangan itu sudah cukup
ramai. Aroma penghapus papan tulis dan wangi minyak wangi remaja bercampur di
udara.
Di barisan belakang, atmosfernya sangat
hidup. Ada Triono, cowok bertubuh kerempeng yang langsung sibuk membagikan
permen mint kepada siapa saja yang lewat di dekat mejanya. Di sebelahnya, Agus
sedang asyik bercerita dengan volume suara yang agak berlebihan, membuat
Kujang—yang sesekali menimpali dengan logat daerahnya yang sangat
kental—tertawa terpingkal-pingkal. Sementara itu, Inflaq, Alfin, Awaludin,
Lukman, dan Firman tampak kompak bergotong royong menggeser dan menyusun
meja-meja kayu agar barisannya terlihat lebih rapi demi kenyamanan mengobrol
nanti.
Aku berjalan ke arah mereka, melempar tasku
ke salah satu kursi kosong di baris ketiga. "Woi, salam kenal semuanya!
Aku Andi," sapaku santai, yang langsung disambut uluran permen dari Triono
dan anggukan ramah dari yang lain.
Aku kemudian membalikkan badan,
memperhatikan area depan kelas di mana para siswi mulai berkumpul. Di dekat
meja guru, ada Herlinda, seorang putri Bugis yang berwajah tegas namun anggun.
Ia sedang berbicara dengan volume yang cukup lantang dan blak-blakan, membuat
Rr Retno yang berpenampilan lemah lembut tersenyum malu-malu. Di sebelah
mereka, Erna yang tampak ramah sedang sibuk menawarkan tisu kepada teman-teman
barunya.
Dan di sudut paling kanan dekat jendela,
duduklah sang putri perwira. Dyah Ayu Kirana sudah mengamankan tempat duduknya.
Di atas mejanya hanya ada sebuah kotak pensil rapi dan buku catatan dorengnya
yang ikonik. Ia duduk tegap, memperhatikan ruangan dengan pandangan
mengobservasi.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan
di pintu kelas seketika menghentikan seluruh keriuhan. Langkah kaki yang
teratur terdengar mendekati meja guru. Seorang pria paruh baya berkemeja batik
rapi dengan senyum hangat namun berwibawa masuk ke dalam kelas. Beliau membawa
sebuah buku absen tebal dan sebuah penggaris kayu panjang.
"Selamat pagi dan salam sejahtera
untuk kita semua, anak-anakku," sapa pria itu, suaranya terdengar ramah
namun berkarakter.
"Pagi, Paaaak!" sahut seisi
kelas I-C serempak.
Beliau meletakkan bukunya, lalu menuliskan
sebuah nama di papan tulis dengan tulisan tangan yang sangat rapi: Pak Ketut.
"Saya Pak Ketut. Saya adalah wali
kelas kalian di I-C ini selama satu tahun ke depan. Selain menjadi orang tua
kalian di sekolah, saya juga yang akan mengajar kalian mata pelajaran Bahasa
Indonesia," ujar Pak Ketut sambil memandang satu per satu wajah muridnya.
"Karena ini kelas Bahasa Indonesia, saya ingin kelas ini menjadi kelas
yang paling tertib, paling kreatif, dan yang terpenting: santun dalam bertutur
kata. Setuju?"
"Setujuuu!" jawab murid-murid
kompak.
"Baik, mari kita mulai dengan
perkenalan agar kita saling mengenal. Kalau saya panggil namanya, silakan
berdiri dan perkenalkan diri secara singkat," kata Pak Ketut sambil
membuka buku absen tebalnya. "Kita mulai dari yang pertama... Alfin?"
Alfin berdiri, memperkenalkan diri dengan
gugup, disusul oleh Agus Siswanto yang sempat melontarkan lelucon kecil hingga
membuat seisi kelas tertawa. Hingga akhirnya, Pak Ketut membaca namaku.
"Andi Gunawan Riotallo?"
Aku langsung berdiri dengan gaya santai.
Aku memasukkan satu tanganku ke dalam saku celana abu-abuku, lalu tersenyum
lebar ke sekeliling kelas. "Halo semua, selamat pagi! Nama saya Andi
Gunawan Riotallo. Panggil saja Andi. Hobi saya berorganisasi, main basket,
sepak bola, dan yang paling penting... mencairkan suasana kelas yang
kaku."
Sambil mengucapkan kalimat terakhir, aku
sengaja mengarahkan pandanganku langsung ke sudut kelas, tepat ke arah Dyah.
Dyah yang merasa disindir hanya mendengus
pelan. Ia melipat kedua tangannya di depan dada lalu membuang muka ke arah
jendela, mengabaikan senyuman usilku.
Triono yang duduk di barisan belakang
langsung menyahut spontan, "Mencairkan suasana atau suka bikin rusuh, Ndi?
Hati-hati Pak Ketut, mukanya muka provokator itu!"
Seketika seisi kelas I-C meledak dalam
tawa. Kujang Khusaini sampai memukul-mukul meja karena terhibur.
Dyah langsung berdiri dengan gerakan yang
luar biasa sigap. Kedua tangannya lurus menjulur di samping jahitan rok abu-abu layaknya posisi siap sempurna dalam baris-berbaris.
"Selamat pagi, Pak Ketut. Selamat
pagi, teman-teman," ujar Dyah. Suaranya lantang, jelas, dan tanpa ragu
sedikit pun. "Nama saya Dyah Ayu Kirana. Panggil saja Dyah. Saya berharap
kita semua bisa bekerja sama dengan baik untuk menjaga nama baik, ketertiban,
dan prestasi kelas I-C ini ke depannya. Terima kasih."
Herlinda, si putri Bugis yang duduk tak
jauh dari sana, langsung menyenggol lengan Rr Retno Ayu Wulandari. "Ih,
tegas sekali dia punya gaya bicara ya? Betul-betul macam komandan upacara di
lapangan tadi," bisik Herlinda dengan logatnya yang khas.
Retno hanya mengangguk pelan sambil
tersenyum kagum. "Iya, kelihatan pintar dan disiplin sekali."
Pak Ketut mengangguk-angguk puas,
memberikan apresiasi lewat senyuman bangganya. "Luar biasa, perkenalan
yang sangat tegas dan penuh semangat dari Dyah. Nah, Andi..." Pak Ketut
melirik ke arahku yang sedang menopang dagu. "Kamu dengar itu? Tampaknya
kamu harus belajar banyak soal ketegasan, kedisiplinan, dan kesantunan dari
Dyah agar tidak cuma bisa mencairkan suasana saja."
Aku spontan meringis lebar. Lalu menggaruk
tengkukku yang sama sekali tidak gatal sambil menatap Dyah yang kini sedang
melirikku dengan senyum kemenangan yang sangat tipis—hampir tak terlihat jika
aku tidak memperhatikannya dengan jeli.
Aku bersandar di kursi, menatap papan
tulis dengan semangat yang mendadak meluap-luap. Satu tahun ke depan di kelas
I-C bersama wali kelas seperti Pak Ketut, teman-teman baruku yang ajaib, dan si
putri perwira yang tangguh ini, dipastikan akan menjadi petualangan SMA yang
tidak akan pernah kulupakan.
------------------------------


