Sabtu, 26 September 2026

Sebuah Novel Romansa Remaja (coming of age) Judul "Dernaga Masing-Masing"


 “Tentang taktik warga sipil yang usil, disiplin putri perwira, dan ombak takdir yang menuntun mereka ke pelabuhan berbeda.”

Dermaga Masing-Masing

Sebuah Novel Fiksi Oleh: GANDI GONAKOVIC

Catatan:

"Novel ini adalah karya fiksi. Beberapa nama tempat dan latar dalam buku ini menggunakan lokasi nyata untuk keperluan cerita, namun karakter, kejadian, dan plot di dalamnya sepenuhnya adalah rekaan penulis."


BAGIAN PERTAMA

BENTURAN DUA KUBU

(Masa Orientasi dan Awal Kelas)


PROLOG

Pagi di Kota Pelabuhan

     Hujan semalam menyisakan hawa dingin yang jarang terjadi di kota pelabuhan ini. Biasanya, jam tujuh pagi saja matahari sudah sanggup membuat kulit kepala terasa gatal. Tapi, hari ini sangat berbeda. Kota seolah sedang berbaik hati memberikan sambutan hangat bagi kami, anak-anak yang akan mengenakan seragam baru kami.

     Bagiku, Andi Gunawan Riotallo, hari ini adalah babak baru yang dinanti-nanti. Selamat tinggal masa SMP yang membosankan dengan guru-guru yang hafal mati semua trik membolos. SMA artinya kebebasan baru, teman-teman baru, dan tentu saja—target-target baru untuk dijahili.

     Sambil menyandang tas ransel yang sengaja digantung longgar di satu bahu, aku bersiul kecil menyusuri trotoar. Di dalam benak kepalaku sudah membayangkan masa SMA yang penuh warna seperti di film-film remaja: nongkrong di kantin saat jam kosong, ikut ekskul keren, atau tebar pesona kepada murid-murid perempuan.

     Aku melangkah dengan penuh percaya diri menuju sebuah papan nama besi yang menjulang di ujung jalan. Aku merasa siap menaklukkan dunia remaja ini dengan senyum cengengesanku.

Aku merasa menjadi anak paling percaya diri di dunia. Setidaknya, sampai aku melihat seorang gadis di bawah pohon beringin yang menatapku seolah-olah aku adalah sebaris kode eror yang harus segera dimusnahkan.

------------------------------


Bab 1

Gerbang Lumba-Lumba

 

     Aroma aspal basah sisa hujan semalam menyambut langkah kakiku, Andi Gunawan Riotallo, di depan gerbang besi bertuliskan "SMA Hang Tuah Jalan Lumba-Lumba". Bagiku, nama jalan sekolah ini terdengar agak menggelikan. Seolah-olah kami semua adalah kawanan mamalia laut yang siap melompat-lompat riang.

     Ketika melihat kerumunan remaja berseragam putih-biru yang berdesakan di papan pengumuman, aku tahu ini bukan tempat bermain topeng monyet. Ini adalah medan perang baru bernama masa SMA.

     Aku menyelip di antara ketiak dan bahu anak-anak lain. Postur tubuhku yang lumayan tinggi memberikan keuntungan fisik. Mataku menyusuri deretan kertas koran yang ditempel di papan tripleks.

     "Riotallo... Rio... Ah, ini dia! Andi Gunawan Riotallo. Diterima!" gumamku pelan. Sebuah senyum lebar terukir di wajahku. Aku mengepalkan tangan ke udara, mengabaikan tatapan sinis dari seorang anak berkacamata di sebelahku yang tampaknya belum menemukan namanya sendiri.

     Kegembiraanku tidak bertahan lama ketika peluit nyaring melengking membelah udara lapangan sekolah.

     Preeeeeet!

     "Seluruh siswa baru, segera berkumpul di lapangan utama! Berbaris sesuai kelompok MOS yang sudah dibagikan lewat papan pengumuman! Cepat, jangan ada yang lambat!" teriak seorang panitia berkemeja OSIS dengan ban lengan merah. Aku mendesah, buru-buru berlari menuju lapangan yang mulai dipenuhi lautan manusia.

     Masa Orientasi Siswa resmi dimulai. Di bawah terik matahari pagi yang mulai menyengat, aku terjebak dalam barisan Peraturan Baris Berbaris (PBB) Kelompok 5. Setelah dua jam mendengarkan materi pengenalan atribut sekolah dan yel-yel yang dipaksakan, panitia akhirnya memberikan waktu istirahat lima belas menit.

     "Aduh, bisa keriting ini kaki," keluhku sambil berjalan gontai mencari tempat berteduh.

     Sebagian besar murid langsung menyerbu kantin atau duduk bergerombol di selasar kelas, mengipas-ngipas wajah mereka dengan topi. Seketika pandanganku justru tersangkut pada sebuah bangku semen di bawah pohon beringin besar di pojok lapangan.

     Di sana, duduk seorang siswi sendirian. Aku langsung teringat—dia gadis yang tadi pagi menatapku tajam di dekat gerbang, seolah aku adalah sebaris kode eror yang mengganggu pemandangan.

     Di saat murid perempuan lain duduk bersandar lunglai karena kelelahan, siswi ini berbeda. Tampak punggungnya tegak lurus, membentuk sudut sembilan puluh derajat yang sempurna menyandar di bangku semen. Rambutnya yang panjang diikat ekor kuda dengan sangat rapi, tidak ada satu helai pun yang mencuat berantakan. Ia sedang membaca sebuah buku catatan kecil bersampul doreng samar.

     Jiwa usilku yang sempat tertidur selama dua jam langsung melek seketika. Prinsipku, melihat orang yang terlalu serius di tengah hari bolong adalah sebuah undangan terbuka untuk diganggu.

     Aku berjalan santai mendekati pohon beringin. Begitu jaraknya tinggal dua langkah, aku sengaja melonggarkan pegangan pada topi pramukaku.

     Puk. Topi itu jatuh tepat di atas ujung sepatu hitam mengilat milik si siswi.

     Aku pura-pura terkejut. "Aduh, jatuh," ujarku dengan nada teatrikal yang dibuat-buat. Aku berjongkok lambat-lambat, mengambil topi, lalu sengaja tidak langsung berdiri. Aku mendongak, menatap langsung wajah gadis itu dari bawah. "Hei. Kamu dari tadi diam saja di sini. Takut ya sama kakak senior yang galak-galak itu? Atau... lagi sariawan dua puluh biji di dalam mulut?"

     Gadis itu tidak bergeming. Ia bahkan tidak menurunkan buku catatannya. Hanya matanya yang bergerak turun, menatapku yang masih berjongkok dengan pandangan sedingin es di kutub utara.

     "Ambil topimu," kata gadis itu pendek. Suaranya rendah, bersih dari nada ramah-tamah khas remaja putri pada umumnya.

     Aku malah terkekeh. Bukannya menjauh, aku justru berdiri lalu menjatuhkan pantatku di atas bangku semen, tepat di sebelah gadis itu tanpa permisi. "Galak amat, Sis. Kenalan dong, aku Andi. Andi Gunawan Riotallo. Kamu dari tadi kaku banget, tahu tidak? Kayak patung selamat datang di pangkalan militer."

     Prak!

     Gadis itu menutup buku catatannya dengan hentakan satu tangan yang cukup keras hingga menimbulkan gema kecil. Ia memutar tubuhnya, menghadap penuh ke arahku. Tatapan matanya lurus, tajam, dan sama sekali tidak berkedip. Aku yang awalnya mau tertawa, mendadak merasa seperti sedang disidang oleh guru bimbingan konseling.

     "Nama saya Dyah Ayu Kirana," ujar gadis itu. Setiap suku katanya diucapkan dengan penekanan yang tegas. "Dan asal kamu tahu, saya tidak punya waktu untuk takut pada senior OSIS, apalagi pada anak usil yang tidak punya sopan santun seperti kamu. Karena Ayah saya Perwira TNI Angkatan Laut. Di rumah, jangankan cuma gertakan panitia orientasi, perintah komando operasi saja sudah jadi makanan saya sehari-hari. Jadi, silakan cari objek lain kalau kamu mau main-main. Paham?"

     Aku spontan menelan ludah. Tenggorokanku mendadak terasa kering. Nyaliku yang tadi menggebu-gebu langsung menyusut separuh melihat aura disiplin yang memancar dari putri seorang perwira laut ini. Gaya bicaranya yang menggunakan kata 'saya' alih-alih 'aku' semakin mempertegas jarak di antara kami.

     "Wah, anak tentara ternyata..." Aku mencoba menyelamatkan muka dengan senyum cengengesan, meski badanku refleks bergeser menjauh beberapa sentimeter. "Pantas saja duduknya tegap banget. Siap, Nona Perwira! Jangan tembak saya, saya cuma warga sipil yang ramah."

     Dyah tidak membalas candaan itu. Ia hanya mendengus pelan, membuka kembali buku catatannya, dan mengabaikan keberadaanku sepenuhnya. Seolah-olah pria di sebelahnya ini hanyalah seonggok oksigen tambahan di bawah pohon beringin.

     Aku memperhatikan profil samping wajah Dyah dari sudut mataku. Ada rasa kesal karena diabaikan, tapi di lubuk hatiku yang paling dalam, ada rasa penasaran yang mulai tumbuh.

     Dyah Ayu Kirana, batinku sambil tersenyum tipis. Masa SMA-ku sepertinya tidak akan membosankan.

 


WAK KOBA BEKOBA

BAB 1: Teguran di Teras Surau

 

Narasi Pengantar:  

Senja itu di pesisir Muara Sei Rokan, angin berembus agak kencang membawa aroma air pasang. Wak Koba duduk meluruskan kaki di tangga surau tua, memperhatikan anak-anak kampung yang sibuk kejar-kejaran dengan riang, padahal suara azan Magrib baru saja usai berkumandang. Ketika dipanggil untuk makan malam, mereka berlarian berebut paling depan. Namun saat disuruh mengambil wudu untuk mengaji, mereka mendadak pura-pura lesu. Wak Koba berdeham pelan, lalu berseru lantang melantunkan bait bekoba lama...

 

Bait Bekoba:  

Suwoung papan tayek papan,  

Buah koranji ditimpo dalam perawu,  

Disuwouh makan awak makan,  

Disuwouh mengaji kenapo awak tak mawu.  

 

Glosarium Mini:  

* *Suwoung:* Sorong  

* *Tayek:* Tarik  

* *Koranji:* Keranji (sejenis buah hutan)  

* *Ditimpo:* Ditimpa / Dimasukkan/Diletakkan  

* *Perawu:* Perahu  

* *Disuwouh:* Disuruh  

* *Awak:* Kamu / Dirimu  

* *Tak mawu:* Tidak mau  

 

Pesan Bijak Wak Koba:  

Pantun tradisional ini merupakan sindiran halus namun menohok tentang keseimbangan hidup. Wak Koba mengingatkan kita semua agar jangan hanya bersemangat dalam mengejar kebutuhan fisik atau urusan duniawi semata (“disuwouh makan awak makan”), tetapi justru menjadi pemalas atau enggan ketika diajak menuntut ilmu agama dan merawat rohani (“disuwouh mengaji kenapo awak tak mawu”).