Minggu, 27 September 2026

Menemukan Kedewasaan di Muara Rokan:

 Mengulas Realisme Subkultur dalam Novel 'Dermaga Masing-masing' Karya Gandi Gonakovic



BAGANSIAPIAPI — Industri sastra kontemporer Indonesia kembali diperkaya dengan lahirnya karya terbaru fiksi coming-of-age bertajuk Dermaga Masing-masing (2026). Ditulis oleh Gandi Gonakovic dan diterbitkan oleh CV Nimetler Mediatama (https://www.nimetlermediatama.com/), novel ini berhasil menjembatani dua realitas subkultur yang kontras: keliaran jalanan remaja urban Surabaya dan keteguhan hidup masyarakat pesisir di muara Sungai Rokan, Bagansiapiapi, Riau.

Cerita berfokus pada dinamika hidup Andi, seorang kapten geng motor yang harus berbenturan dengan rigidnya dunia militer saat jatuh hati pada Dyah Ayu Kirana, seorang putri perwira TNI AL. Konflik mencapai puncaknya ketika takdir memisahkan mereka ke dua dermaga yang berbeda—Akpol Magelang dan nestapa Drop Out dari Fakultas Hukum akibat krisis finansial. Pelarian Andi menggunakan kapal kargo menuju tanah kelahiran di Rokan Hilir menjadi simbol dari pencarian eksistensial dan ketahanan mental.

Novel ini tidak sekadar menawarkan romansa remaja, melainkan sebuah potret sosiologis yang matang mengenai harga diri, benturan kelas, dan loyalitas lintas budaya. Bagi para pengkaji sastra dan akademisi, Dermaga Masing-masing menyajikan materi yang kaya untuk dibedah melalui kacamata strukturalisme genetik maupun psikologi sastra. Karya ini menjadi bukti autentik bagaimana lokalitas daerah seperti Bagansiapiapi mampu diangkat menjadi latar pencarian jati diri yang magis dan mendalam.

------------------------------


 


BAB 2

Selamat Pagi, I-C!

 

     Senin pagi berikutnya, suasana di SMA Hang Tuah Jalan Lumba-Lumba jauh lebih khidmat. Tidak ada lagi yel-yel aneh atau atribut kardus khas MOS. Ratusan siswa berdiri rapi dalam barisan yang lurus di lapangan utama untuk mengikuti upacara bendera pertama di semester baru.

     Di atas podium, Kepala Sekolah, Pak Fakih Harianto, berdiri dengan gagah. Pakaian dinasnya rapi tanpa lipatan keliru, dan kacamata berbingkai tipis miliknya berkilau diterpa matahari pagi. Suaranya yang berat membelah keheningan lapangan melalui pengeras suara.

     "Kalian bukan lagi anak-anak SMP yang manja," tegas Pak Fakih dalam amanatnya. "Di SMA Hang Tuah Jalan Lumba-Lumba, kedisiplinan adalah napas kita. Masa depan kalian ditentukan oleh apa yang kalian mulai hari ini. Jaga kehormatan diri, patuhi aturan, dan ukir prestasi!"

     Aku yang berdiri di barisan tengah mencuri pandang ke arah barisan perempuan. Benar saja, beberapa meter di sebelah kananku, Dyah Ayu Kirana berdiri dengan sikap sempurna. Dagunya terangkat, pandangannya lurus ke depan, seolah-olah amanat Pak Fakih adalah perintah operasi militer yang siap ia laksanakan kapan saja. Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil.

     Begitu upacara dibubarkan, riuh rendah suara murid langsung pecah. Semua orang berbondong-bondong menuju papan pengumuman besar di selasar tengah untuk melihat pembagian kelas permanen. Aku harus kembali menggunakan teknik selap-selipku hingga berhasil menembus barisan depan.

     "I-C... I-C... nah!" Aku meneliti daftar nama di kertas tersebut. Mataku membelalak gembira saat menemukan namaku, namun kegembiraan itu berubah menjadi senyum penuh arti saat melihat nama yang tertulis tepat tiga baris di bawah namaku: Dyah Ayu Kirana.

     "Takdir memang suka bercanda," gumamku riang.

     Aku segera berbalik dan melangkah menuju ruang kelas I-C yang terletak di lantai satu, tak jauh dari taman sekolah. Saat aku melangkah masuk melalui pintu kayu bercat hijau, ruangan itu sudah cukup ramai. Aroma penghapus papan tulis dan wangi minyak wangi remaja bercampur di udara.

     Di barisan belakang, atmosfernya sangat hidup. Ada Triono, cowok bertubuh kerempeng yang langsung sibuk membagikan permen mint kepada siapa saja yang lewat di dekat mejanya. Di sebelahnya, Agus sedang asyik bercerita dengan volume suara yang agak berlebihan, membuat Kujang—yang sesekali menimpali dengan logat daerahnya yang sangat kental—tertawa terpingkal-pingkal. Sementara itu, Inflaq, Alfin, Awaludin, Lukman, dan Firman tampak kompak bergotong royong menggeser dan menyusun meja-meja kayu agar barisannya terlihat lebih rapi demi kenyamanan mengobrol nanti.

     Aku berjalan ke arah mereka, melempar tasku ke salah satu kursi kosong di baris ketiga. "Woi, salam kenal semuanya! Aku Andi," sapaku santai, yang langsung disambut uluran permen dari Triono dan anggukan ramah dari yang lain.

     Aku kemudian membalikkan badan, memperhatikan area depan kelas di mana para siswi mulai berkumpul. Di dekat meja guru, ada Herlinda, seorang putri Bugis yang berwajah tegas namun anggun. Ia sedang berbicara dengan volume yang cukup lantang dan blak-blakan, membuat Rr Retno yang berpenampilan lemah lembut tersenyum malu-malu. Di sebelah mereka, Erna yang tampak ramah sedang sibuk menawarkan tisu kepada teman-teman barunya.

     Dan di sudut paling kanan dekat jendela, duduklah sang putri perwira. Dyah Ayu Kirana sudah mengamankan tempat duduknya. Di atas mejanya hanya ada sebuah kotak pensil rapi dan buku catatan dorengnya yang ikonik. Ia duduk tegap, memperhatikan ruangan dengan pandangan mengobservasi.

     Tok! Tok! Tok!

     Ketukan di pintu kelas seketika menghentikan seluruh keriuhan. Langkah kaki yang teratur terdengar mendekati meja guru. Seorang pria paruh baya berkemeja batik rapi dengan senyum hangat namun berwibawa masuk ke dalam kelas. Beliau membawa sebuah buku absen tebal dan sebuah penggaris kayu panjang.

     "Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua, anak-anakku," sapa pria itu, suaranya terdengar ramah namun berkarakter.

     "Pagi, Paaaak!" sahut seisi kelas I-C serempak.

     Beliau meletakkan bukunya, lalu menuliskan sebuah nama di papan tulis dengan tulisan tangan yang sangat rapi: Pak Ketut.

     "Saya Pak Ketut. Saya adalah wali kelas kalian di I-C ini selama satu tahun ke depan. Selain menjadi orang tua kalian di sekolah, saya juga yang akan mengajar kalian mata pelajaran Bahasa Indonesia," ujar Pak Ketut sambil memandang satu per satu wajah muridnya. "Karena ini kelas Bahasa Indonesia, saya ingin kelas ini menjadi kelas yang paling tertib, paling kreatif, dan yang terpenting: santun dalam bertutur kata. Setuju?"

     "Setujuuu!" jawab murid-murid kompak.

     "Baik, mari kita mulai dengan perkenalan agar kita saling mengenal. Kalau saya panggil namanya, silakan berdiri dan perkenalkan diri secara singkat," kata Pak Ketut sambil membuka buku absen tebalnya. "Kita mulai dari yang pertama... Alfin?"

     Alfin berdiri, memperkenalkan diri dengan gugup, disusul oleh Agus Siswanto yang sempat melontarkan lelucon kecil hingga membuat seisi kelas tertawa. Hingga akhirnya, Pak Ketut membaca namaku.

     "Andi Gunawan Riotallo?"

     Aku langsung berdiri dengan gaya santai. Aku memasukkan satu tanganku ke dalam saku celana abu-abuku, lalu tersenyum lebar ke sekeliling kelas. "Halo semua, selamat pagi! Nama saya Andi Gunawan Riotallo. Panggil saja Andi. Hobi saya berorganisasi, main basket, sepak bola, dan yang paling penting... mencairkan suasana kelas yang kaku."

     Sambil mengucapkan kalimat terakhir, aku sengaja mengarahkan pandanganku langsung ke sudut kelas, tepat ke arah Dyah.

     Dyah yang merasa disindir hanya mendengus pelan. Ia melipat kedua tangannya di depan dada lalu membuang muka ke arah jendela, mengabaikan senyuman usilku.

     Triono yang duduk di barisan belakang langsung menyahut spontan, "Mencairkan suasana atau suka bikin rusuh, Ndi? Hati-hati Pak Ketut, mukanya muka provokator itu!"

     Seketika seisi kelas I-C meledak dalam tawa. Kujang Khusaini sampai memukul-mukul meja karena terhibur.

      "Sudah, sudah, jangan menggoda teman baru kalian," lerai Pak Ketut sambil terkekeh pelan, menenangkan kelas dengan lambaian tangannya. "Terima kasih, Andi. Silakan duduk kembali. Nah, kita lanjutkan... Dyah Ayu Kirana?"

     Dyah langsung berdiri dengan gerakan yang luar biasa sigap. Kedua tangannya lurus menjulur di samping jahitan rok abu-abu layaknya posisi siap sempurna dalam baris-berbaris.

     "Selamat pagi, Pak Ketut. Selamat pagi, teman-teman," ujar Dyah. Suaranya lantang, jelas, dan tanpa ragu sedikit pun. "Nama saya Dyah Ayu Kirana. Panggil saja Dyah. Saya berharap kita semua bisa bekerja sama dengan baik untuk menjaga nama baik, ketertiban, dan prestasi kelas I-C ini ke depannya. Terima kasih."

     Herlinda, si putri Bugis yang duduk tak jauh dari sana, langsung menyenggol lengan Rr Retno Ayu Wulandari. "Ih, tegas sekali dia punya gaya bicara ya? Betul-betul macam komandan upacara di lapangan tadi," bisik Herlinda dengan logatnya yang khas.

     Retno hanya mengangguk pelan sambil tersenyum kagum. "Iya, kelihatan pintar dan disiplin sekali."

     Pak Ketut mengangguk-angguk puas, memberikan apresiasi lewat senyuman bangganya. "Luar biasa, perkenalan yang sangat tegas dan penuh semangat dari Dyah. Nah, Andi..." Pak Ketut melirik ke arahku yang sedang menopang dagu. "Kamu dengar itu? Tampaknya kamu harus belajar banyak soal ketegasan, kedisiplinan, dan kesantunan dari Dyah agar tidak cuma bisa mencairkan suasana saja."

     Aku spontan meringis lebar. Lalu menggaruk tengkukku yang sama sekali tidak gatal sambil menatap Dyah yang kini sedang melirikku dengan senyum kemenangan yang sangat tipis—hampir tak terlihat jika aku tidak memperhatikannya dengan jeli.

     Aku bersandar di kursi, menatap papan tulis dengan semangat yang mendadak meluap-luap. Satu tahun ke depan di kelas I-C bersama wali kelas seperti Pak Ketut, teman-teman baruku yang ajaib, dan si putri perwira yang tangguh ini, dipastikan akan menjadi petualangan SMA yang tidak akan pernah kulupakan.

------------------------------

Sabtu, 26 September 2026

Sebuah Novel Romansa Remaja (coming of age) Judul "Dernaga Masing-Masing"


 “Tentang taktik warga sipil yang usil, disiplin putri perwira, dan ombak takdir yang menuntun mereka ke pelabuhan berbeda.”

Dermaga Masing-Masing

Sebuah Novel Fiksi Oleh: GANDI GONAKOVIC

Catatan:

"Novel ini adalah karya fiksi. Beberapa nama tempat dan latar dalam buku ini menggunakan lokasi nyata untuk keperluan cerita, namun karakter, kejadian, dan plot di dalamnya sepenuhnya adalah rekaan penulis."


BAGIAN PERTAMA

BENTURAN DUA KUBU

(Masa Orientasi dan Awal Kelas)


PROLOG

Pagi di Kota Pelabuhan

     Hujan semalam menyisakan hawa dingin yang jarang terjadi di kota pelabuhan ini. Biasanya, jam tujuh pagi saja matahari sudah sanggup membuat kulit kepala terasa gatal. Tapi, hari ini sangat berbeda. Kota seolah sedang berbaik hati memberikan sambutan hangat bagi kami, anak-anak yang akan mengenakan seragam baru kami.

     Bagiku, Andi Gunawan Riotallo, hari ini adalah babak baru yang dinanti-nanti. Selamat tinggal masa SMP yang membosankan dengan guru-guru yang hafal mati semua trik membolos. SMA artinya kebebasan baru, teman-teman baru, dan tentu saja—target-target baru untuk dijahili.

     Sambil menyandang tas ransel yang sengaja digantung longgar di satu bahu, aku bersiul kecil menyusuri trotoar. Di dalam benak kepalaku sudah membayangkan masa SMA yang penuh warna seperti di film-film remaja: nongkrong di kantin saat jam kosong, ikut ekskul keren, atau tebar pesona kepada murid-murid perempuan.

     Aku melangkah dengan penuh percaya diri menuju sebuah papan nama besi yang menjulang di ujung jalan. Aku merasa siap menaklukkan dunia remaja ini dengan senyum cengengesanku.

Aku merasa menjadi anak paling percaya diri di dunia. Setidaknya, sampai aku melihat seorang gadis di bawah pohon beringin yang menatapku seolah-olah aku adalah sebaris kode eror yang harus segera dimusnahkan.

------------------------------


Bab 1

Gerbang Lumba-Lumba

 

     Aroma aspal basah sisa hujan semalam menyambut langkah kakiku, Andi Gunawan Riotallo, di depan gerbang besi bertuliskan "SMA Hang Tuah Jalan Lumba-Lumba". Bagiku, nama jalan sekolah ini terdengar agak menggelikan. Seolah-olah kami semua adalah kawanan mamalia laut yang siap melompat-lompat riang.

     Ketika melihat kerumunan remaja berseragam putih-biru yang berdesakan di papan pengumuman, aku tahu ini bukan tempat bermain topeng monyet. Ini adalah medan perang baru bernama masa SMA.

     Aku menyelip di antara ketiak dan bahu anak-anak lain. Postur tubuhku yang lumayan tinggi memberikan keuntungan fisik. Mataku menyusuri deretan kertas koran yang ditempel di papan tripleks.

     "Riotallo... Rio... Ah, ini dia! Andi Gunawan Riotallo. Diterima!" gumamku pelan. Sebuah senyum lebar terukir di wajahku. Aku mengepalkan tangan ke udara, mengabaikan tatapan sinis dari seorang anak berkacamata di sebelahku yang tampaknya belum menemukan namanya sendiri.

     Kegembiraanku tidak bertahan lama ketika peluit nyaring melengking membelah udara lapangan sekolah.

     Preeeeeet!

     "Seluruh siswa baru, segera berkumpul di lapangan utama! Berbaris sesuai kelompok MOS yang sudah dibagikan lewat papan pengumuman! Cepat, jangan ada yang lambat!" teriak seorang panitia berkemeja OSIS dengan ban lengan merah. Aku mendesah, buru-buru berlari menuju lapangan yang mulai dipenuhi lautan manusia.

     Masa Orientasi Siswa resmi dimulai. Di bawah terik matahari pagi yang mulai menyengat, aku terjebak dalam barisan Peraturan Baris Berbaris (PBB) Kelompok 5. Setelah dua jam mendengarkan materi pengenalan atribut sekolah dan yel-yel yang dipaksakan, panitia akhirnya memberikan waktu istirahat lima belas menit.

     "Aduh, bisa keriting ini kaki," keluhku sambil berjalan gontai mencari tempat berteduh.

     Sebagian besar murid langsung menyerbu kantin atau duduk bergerombol di selasar kelas, mengipas-ngipas wajah mereka dengan topi. Seketika pandanganku justru tersangkut pada sebuah bangku semen di bawah pohon beringin besar di pojok lapangan.

     Di sana, duduk seorang siswi sendirian. Aku langsung teringat—dia gadis yang tadi pagi menatapku tajam di dekat gerbang, seolah aku adalah sebaris kode eror yang mengganggu pemandangan.

     Di saat murid perempuan lain duduk bersandar lunglai karena kelelahan, siswi ini berbeda. Tampak punggungnya tegak lurus, membentuk sudut sembilan puluh derajat yang sempurna menyandar di bangku semen. Rambutnya yang panjang diikat ekor kuda dengan sangat rapi, tidak ada satu helai pun yang mencuat berantakan. Ia sedang membaca sebuah buku catatan kecil bersampul doreng samar.

     Jiwa usilku yang sempat tertidur selama dua jam langsung melek seketika. Prinsipku, melihat orang yang terlalu serius di tengah hari bolong adalah sebuah undangan terbuka untuk diganggu.

     Aku berjalan santai mendekati pohon beringin. Begitu jaraknya tinggal dua langkah, aku sengaja melonggarkan pegangan pada topi pramukaku.

     Puk. Topi itu jatuh tepat di atas ujung sepatu hitam mengilat milik si siswi.

     Aku pura-pura terkejut. "Aduh, jatuh," ujarku dengan nada teatrikal yang dibuat-buat. Aku berjongkok lambat-lambat, mengambil topi, lalu sengaja tidak langsung berdiri. Aku mendongak, menatap langsung wajah gadis itu dari bawah. "Hei. Kamu dari tadi diam saja di sini. Takut ya sama kakak senior yang galak-galak itu? Atau... lagi sariawan dua puluh biji di dalam mulut?"

     Gadis itu tidak bergeming. Ia bahkan tidak menurunkan buku catatannya. Hanya matanya yang bergerak turun, menatapku yang masih berjongkok dengan pandangan sedingin es di kutub utara.

     "Ambil topimu," kata gadis itu pendek. Suaranya rendah, bersih dari nada ramah-tamah khas remaja putri pada umumnya.

     Aku malah terkekeh. Bukannya menjauh, aku justru berdiri lalu menjatuhkan pantatku di atas bangku semen, tepat di sebelah gadis itu tanpa permisi. "Galak amat, Sis. Kenalan dong, aku Andi. Andi Gunawan Riotallo. Kamu dari tadi kaku banget, tahu tidak? Kayak patung selamat datang di pangkalan militer."

     Prak!

     Gadis itu menutup buku catatannya dengan hentakan satu tangan yang cukup keras hingga menimbulkan gema kecil. Ia memutar tubuhnya, menghadap penuh ke arahku. Tatapan matanya lurus, tajam, dan sama sekali tidak berkedip. Aku yang awalnya mau tertawa, mendadak merasa seperti sedang disidang oleh guru bimbingan konseling.

     "Nama saya Dyah Ayu Kirana," ujar gadis itu. Setiap suku katanya diucapkan dengan penekanan yang tegas. "Dan asal kamu tahu, saya tidak punya waktu untuk takut pada senior OSIS, apalagi pada anak usil yang tidak punya sopan santun seperti kamu. Karena Ayah saya Perwira TNI Angkatan Laut. Di rumah, jangankan cuma gertakan panitia orientasi, perintah komando operasi saja sudah jadi makanan saya sehari-hari. Jadi, silakan cari objek lain kalau kamu mau main-main. Paham?"

     Aku spontan menelan ludah. Tenggorokanku mendadak terasa kering. Nyaliku yang tadi menggebu-gebu langsung menyusut separuh melihat aura disiplin yang memancar dari putri seorang perwira laut ini. Gaya bicaranya yang menggunakan kata 'saya' alih-alih 'aku' semakin mempertegas jarak di antara kami.

     "Wah, anak tentara ternyata..." Aku mencoba menyelamatkan muka dengan senyum cengengesan, meski badanku refleks bergeser menjauh beberapa sentimeter. "Pantas saja duduknya tegap banget. Siap, Nona Perwira! Jangan tembak saya, saya cuma warga sipil yang ramah."

     Dyah tidak membalas candaan itu. Ia hanya mendengus pelan, membuka kembali buku catatannya, dan mengabaikan keberadaanku sepenuhnya. Seolah-olah pria di sebelahnya ini hanyalah seonggok oksigen tambahan di bawah pohon beringin.

     Aku memperhatikan profil samping wajah Dyah dari sudut mataku. Ada rasa kesal karena diabaikan, tapi di lubuk hatiku yang paling dalam, ada rasa penasaran yang mulai tumbuh.

     Dyah Ayu Kirana, batinku sambil tersenyum tipis. Masa SMA-ku sepertinya tidak akan membosankan.

 


WAK KOBA BEKOBA

BAB 1: Teguran di Teras Surau

 

Narasi Pengantar:  

Senja itu di pesisir Muara Sei Rokan, angin berembus agak kencang membawa aroma air pasang. Wak Koba duduk meluruskan kaki di tangga surau tua, memperhatikan anak-anak kampung yang sibuk kejar-kejaran dengan riang, padahal suara azan Magrib baru saja usai berkumandang. Ketika dipanggil untuk makan malam, mereka berlarian berebut paling depan. Namun saat disuruh mengambil wudu untuk mengaji, mereka mendadak pura-pura lesu. Wak Koba berdeham pelan, lalu berseru lantang melantunkan bait bekoba lama...

 

Bait Bekoba:  

Suwoung papan tayek papan,  

Buah koranji ditimpo dalam perawu,  

Disuwouh makan awak makan,  

Disuwouh mengaji kenapo awak tak mawu.  

 

Glosarium Mini:  

* *Suwoung:* Sorong  

* *Tayek:* Tarik  

* *Koranji:* Keranji (sejenis buah hutan)  

* *Ditimpo:* Ditimpa / Dimasukkan/Diletakkan  

* *Perawu:* Perahu  

* *Disuwouh:* Disuruh  

* *Awak:* Kamu / Dirimu  

* *Tak mawu:* Tidak mau  

 

Pesan Bijak Wak Koba:  

Pantun tradisional ini merupakan sindiran halus namun menohok tentang keseimbangan hidup. Wak Koba mengingatkan kita semua agar jangan hanya bersemangat dalam mengejar kebutuhan fisik atau urusan duniawi semata (“disuwouh makan awak makan”), tetapi justru menjadi pemalas atau enggan ketika diajak menuntut ilmu agama dan merawat rohani (“disuwouh mengaji kenapo awak tak mawu”).

 

Sabtu, 14 Januari 2023

wAK kOBA bEKOBA


 

“Buah polam di utan jirat,

Cakuk sebuah masak mongkal.

Kalolah kelam dunia akhirat,

 Isuk tibo baru badan menyosal.”

(***)

 

“Sungai rapek titian beombong,

       Ludah biawak dibatang pisang.

Kalo dah mendapek janganlah sombong,

      Mudah awak dibonci uyang”.

 

(***)

“Buwong pipit buwong tempuwo,

      Besa ang inyo dibalik umah.

Bia sikik totap dibagi duwo,

     Samo samo kito dapek mengunyah.”

 

(***)

 

“Kelapo tuo ingan ditatah,

Buah tomat kono pikat.

Uyang tuo janganlah dibantah,

agar hiduik selamat dunio akhirat.

(***)

 

 

Budak-budak sonang bersuka ria,

naik biduk ditongah kualo.

Banyak-banyaklah berdoa,

 agar hiduik ponuh pahalo.”

(***)

 

 

“Lobih baik belaya ke kalimantan,

dai pado ke irian.

Lobih baik seharian tak makan,

dai pado konyang seharian.”

(***)

 

“Membolah jati betindih-tindih,

tapi yang berigi sisihkan sendi ie.

usahlah hati menjadi sodih,

karena akan ugi sendi ie.”

 

 

(***)

“Budak jumrah memasang lukah,

 malah tejoyek anak buayo.

Bebanyaklah besodokah,

sobab itu membuek kau kayo.”

(***)

 

 

“Udang ditampung diboi namo,

Dapek sedikik kono songek sunguiknyo.

Uyang Kampung mai besamo,

membangkikkan semangek maso lamo”.

(***)

Minggu, 17 Mei 2015

KISAH WAK KOBA dan ALANG KELUIT : Bolum tontu leh wak......!!!




Wak Koba dan Alang Keluit biasolah pagi-pagi dah duluan hadir di kodai kopi jalan perniagaan. Tak lain uyang beduwo tuh be ce ito tontang macam=macam yang ondak di cakapnyo. Dayi masalah politik sampai masalah lahan di cakap uyang beduwo tuh. Padahal.....!!!!entah botul entah indak.....!!!!
Wak Koba           : lang.......woy lang wuik....!!!!
Alang Keluit       : iyo wak.....!!!!
Wak Koba           : lang....woy....yyyyy... lang....!!!
Alang Keluit       : iyo ...wak....apo melantak wak hayiko....!!!
Wak Koba           : moh...tekonang aku nah.........????
AlangKeluit        : tekonang apo wak.....?????
Wak Koba           : moh.....tekonang aku na.....!!!!
Alang Keluit       : tekonang apo wak....!!!!!apo melantak wak hayi ko.....!!!!
Wak Koba           : tekonang aku..... kian pemilihan bupati siapo yang awak pilih kian...!!!!
Alang Keluit       : itulah wak.......!!!!kiniko ompek udin ondak mencalon jadi bupati kito ko....!!!!. ompek udin ko...samo kuatnyo kiniko.....
Wak Koba           ; siapo-siapo udin tuh lang.....!!!!
Alang Keluit       : moh....baco koran wak.....awakko harus membaco tuwuih, bia indak ketinggalan...!!!
Wak Koba           : aku ko.... kalau dah pocah kacomato...tak dapek membaco leh lang....!!
Alang Keluit       :ompek udin tuh....petamo udin ko.... nasarudin, ketua dprd rohil awak kininko...., inyo tontu dapek partai golkar...!!! udin keduwo.....jamiludin, ketuwo partai pdi perjuangan tontu dapek partai pdi perjuangan...soalnyo kader wak...!!!
Wak Koba : kalau udin ketigo ...lang...????
Alang Keluit       : udin ketigo...syarifuddin, inyo tontu dapek partai PKB soalnyo ketua partai itu. Dan udin ke ompek ko wak...... syafruddin, uyang banyak memanggilnyo iput wak....kalau udin keompek ko tontu pandai lobi partai wak.......!!!
Wak Koba           : jadi siapo yang awak pilih kian wak......!!!
Alang Keluit       : bolum tontu leh wak...!!!
Wak Koba           : moh......ngapo bolum tontu pulo wak.....kian awak ketinggalan pulo....!!!
Alang Keluit : bagaimano awak ondak menontukan pilihan awak .....sodangkan partai pendukung uyangko bolum tahu layi....!!!
Wak Koba : moh.....begitu pulo agaknyo...hmmm ....(entah nangko entah cempodak...entah iyo entah indak_