Tampilkan postingan dengan label perikanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perikanan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Oktober 2011

Ketua DPRD Rohil dukung Diskanlut lakukan pengawasan terhadap illegal fishing


BAGANSIAPIAPI,KABARROHIL-Ketua DPRD Rokan Hilir, Nasrudin Hasan sangat mendukung tindakan kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Rokan Hilir, Ir. Amrizal dalam melakukan pengawasan terhadap perbuatan “illegal fishing” dan illegal alat tangkap dalam arti penangkapan ikan yang dilarang oleh  peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan tindakan aksi menindak tegas para pelaku yang melanggarnya. Hal ini agar kelestarian habitat laut di zone perairan Kabupaten Rokan Hilir tersebut terjaga dengan baik. Demikian ditegaskannya kepada KABARROHIL ketika bertemu di jalan Utama bagansiapiapi, Selasa (11/10).

“Kita mendukung sepenuhnya tindakan yang dilakukan oleh Dinas Perikanan dan kelautan Kabupaten Rokan Hilir dalam menertibkan terhadap illegal fishing dan nelayan yang menangkap ikan dengan peralatan trowl di zone wilayah perairan kabupaten Rokan Hilir yang dilarang oleh undang-undang  yang berlaku,”ujarnya.

Dia mengatakan bahwa laut wilayah perairan Kabupaten Rokan Hilir sangat kaya hasil yang terkandung didalamnya. Oleh sebab itu harus dijaga kelestariannya terhadap penangkap-penangkap ikan yang menggunakan peralatan penangkap yang dilarang oleh perundang-undangan yang berlaku. Karena menurutnya penggunaan alat “trowl” dilarang oleh UU karena dapat menghabiskan habitat laut hingga keterumbu karang sehingga jika dibiarkan maka hasil laut di wilayah kabupaten Rokan Hilir tidak akan bertahan dengan hasil yang bagus dalam jangka waktu lama. Disebut Nasrudin Hasan menambahkan, tindakan menangkap ikan dengan alat trowl juga membawa dampak terhadap penghasilan nelayan tempatan yang hanya menggunakan alat tangkap secara tradisional.

“Nelayan menangkap ikan dengan towl mengejar ikan hingga kedasar laut yang dapat merusak kelestarian habitat laut sedangkan nelayan tempatan hanya menunggu ikan dengan menyebarkan jaring. Oleh sebab itu kelestarian hasil laut di wilayah perairan kabupaten Rokan Hilir harus selalu dijaga dengan pengawasan yang baik serta dengan tindakan tegas,”tuturnya.

Dikatakannya, wilayah perairan Laut kabupaten Rokan Hilir  sangat luas. Ditambahkannya wilayah laut itu juga  terbuka baik dari kabupaten atau provinsi tetangga maupun  negara tetangga, di sisi lain lanjutnya mengatakan kemampuan pengawasan khususnya armada pengawasan  (kapal pengawas,red) masih sangat terbatas dibandingkan kebutuhan untuk mengawasi daerah rawan.

“Luasnya wilayah laut perairan kabupaten Rokan Hilir dengan  kenyataan masih sangat terbuka karena berbatasan dengan laut negara tetangga  telah menjadi magnet penarik masuknya kapal-kapal ikan asing maupun lokal untuk melakukan illegal fishing,”pungkasnya.

Sedangkan kepala dinas perikanan dan kelautan Kabupaten Rokan Hilir, Ir.Amrizal ketika dihubungi pada hari yang sama (selasa 11/10,red) mengatakan bahwa pengawasan terhadap “Illegal Fishing” maupun terhadap nelayan yang menangkap ikan dengan menggunakan alat penangkap ikan yang dilarang oleh UU terus secara rutin dilakukan. Meskinpun, lanjutnya menambahkan dengan armada kapal pengawasan yang sangat terbatas.

“Kita secara rutin melakukan pengawasan di laut perairan Rokan Hilir,”tandasnya.

Informasi yang didapat dan dihimpun oleh KABARROHIL, Petugas Dinas perikanan dan kelautan Kabupaten Rokan Hilir dalam melakukan pengawasan di wilayah laut perairan zone Rokan Hilir hanya menggunakan speed boat kecil, sehingga  jika keadaan cuaca laut berombak dan angin kencang menjadi hambatan dalam malakukan pengawasan. (andi wrc)

       

Kamis, 06 Oktober 2011

Nelayan tradisional bangga, nelayan pukat diancam penjara


BAGANSIAPIAPI,KABARROHIL-Dengan ditangkapnya kapal ikan menggunakan alat tangkap trowl mini oleh Dinas perikanan dan kelautan Rokan Hilir,  para nelayan Rokan Hilir yang menangkap ikan hanya dengan peralatan tradisional merasa senang. Karena selain dapat melestarikan habitat laut juga para nelayan tradisional dapat meningkatkan hasil tangkap mereka. Hal ini ditegaskan oleh Jumadi ketua kelompok “nelayan jaya” kelurahan bagan barat kepada KABARROHIL ketika ditemui, kamis (6/10).

“Sekarang hasil tangkap kami sudah berangsur membaik setelah giatnya dinas perikanan dan kelautan Rokan Hilir beroperasi untuk menangkap kapal ikan menggunakan trowl di perairan Rokan Hilir. Sebelum adanya operasi di laut dari dinas perikanan dan kelautan Rohil, untuk membayar hutang saja sangat sulit.  Sekali turun kita perlu biaya ongkos sekitar 5 juta rupiah sedangkan hasil kurang dari 5 juta rupiah. Kalau kami tidak menghasilkan sebanyak minimal 8 juta rupiah maka dianggap tidak menghasilkan. Setelah adanya operasi laut oleh dinas terkait hasil penangkapan kami sudah membaik,”tutur Jumadi.

Diterangkan Jumadi,  dirinya dan rekan-rekan nelayan menangkap ikan secara tradisional di perairan Rokan Hilir tentunya tersaingi oleh penangkap ikan dengan menggunakan trowl. Karena menangkap ikan dengan alat pukat itu  tambahnya, semua habitat laut diraup hingga keterumbu karang. Hal ini sebutnya, sudah berlangsung selama tiga tahun berjalan. Diterangkan oleh Jumadi bahwa dirinya menjadi nelayan sudah lima tahun berjalan. Diperkirakannya nelayan yang menggunakan alat pukat di perairan Rokan Hilir melebihi 150 unit kapal.

“Diharapkan kapal-kapal yang ditangkap dimusnahkan atau disita untuk negara sehingga membuat jera nelayan yang menangkap dengan alat pukat tersebut. Kapal PI warna orange juga pernah kita lihat beroperasi menangkap dengan pukat di malam hari di perairan Rokan Hilir,”tandasnya.

Sementara itu salah satu nakhoda dari 9 nakhoda yang ditahan, Hendri mengatakan bahwa dirinya bersama tiga orang anggota nelayan dari berombang sudah lima hari menangkap ikan di laut. Namun apes mereka pada saat hari seharusnya balik ke berombang tersebut diamankan oleh dinas perikanan dan kelautan Rohil.

“Sudah lima hari dilaut. Menangkap ikan di perairan wilayah kami sudah sulit karena banyak kapal PI besar-besar dari tanjung balai dan aceh beroperasi disana. Jika kami masih bersaing dengan PI kapal kami di langgarnya. Karena terjepit mencari ikan di wilayah kami maka kami menangkap di perairan Rokan Hilir,”pungkasnya.  (andi wrc)

Jumat, 21 Januari 2011

Wabup himbau agar Bantuan peralatan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya

BAGANSIAPIAPI,KABARROHIL-Acara penyerahan alat tangkap ikan oleh Wabup H.Suyatno kepada 56 nelayan digelar di gedung kantor Diskanlut Rohil jalan kecamatan batu enam Bagansiapiapi,Jumat (21/1). Acara itu dihadiri oleh Kadiskanlut Rohil H.M Rusli Syarief ,Kadis Bapedalda H Surya Arfan,Kadis Pasar H Sukma Al Falah, jajaran Dinaskanlut Rohil, dan jajaran kelurahan Bagan Hulu. Bantuan dari Pemdakab Rohil itu diterima langsung oleh masyarakat nelayan yang merupakan program Pemkab Rohil untuk pengurangan angka kemiskinan dalam upaya mengentaskan kemiskinan di Kabupaten Rokan Hilir.

"Asalkan jangan diperjual- belikan. Tolong dimanfaatkan dengan baik untuk mencari nafkah dilaut. Namun diingat dalam mengarungi laut saat ini harus berhati-hati sebab cuaca dilaut tidak kondusif,"tutur Wakil Bupati H Suyatno saat menyampaikan sambutannya.

Wabup Rohil H.Suyatno mengatakan program ini merupakan salah satu program Pemkab Rohil yang merasa peduli untuk memperhatikan nasip para nelayan dalam upaya meningkatkan hasil kehidupan dari laut. Harapan Wabup H.Suyatno pada 5(lima) tahun kedepan sudah tidak ada lagi masyarakat nelayan yang menggunakan alat tangkap tradisional dengan bersampan dayung mengarungi lautan lepas.

“Dari hal inilah Pemkab terpanggil untuk membantu agar lebih meningkatkan sarana dan prasarana peralatan para nelayan tradisional secara bertahap,"ucap Wabup Suyatno.

Menurut wakil Bupati,bantuan sarana dan prasarana bukan saja diberikan kepada masyarakat nelayan akan tetapi juga diberikan juga kepada masyarakat petani melalui kelompok tani. Dikatakan wabup bantuan diberikan akan dievaluasi dan dimonitor sehingga bantuan tersebut tidak disalah gunakan,hal ini dilakukan agar bantuan tersebut tepat sasaran.

"Saya harapkan bantuan ini dipergunakan dengan semestinya. Nelayan yang diberi mesin saya harapkan kedepannya tidak lagi menggunakan perahu dayung lagi tetapi telah memakai mesin. Bantuan mesin yang diberi jangan dijual, begitu juga belat jangan dijual dan jaring untuk selimut,"katanya.

Wabup Suyatno mengatakan pemdakab Rohil melalui Diskanlut Rohil juga memberikan bantuan untuk masyarakat yang tidak mampu kelaut dan beralih kepeternakan ikan kolam darat. Ia mengatakan bantuan tersebut melalui program bantuan berupa bibit ikan tambak kolam darat yang disesuaikan dengan kondisi kolam secara langsung.

“Bagi nelayan yang punya tambak ikan juga bakal menerima bantuan bibit ikan. Kami pemerintah akan terus berbuat apalagi pada pemerintahan yang akan datang tetap diajukan oleh pemerintah daerah,”tandasnya. (andi wrc/gun)

Nelayan Rohil terima bantuan peralatan tangkap, bantuan diserahkan langsung oleh Wabup Suyatno

BAGANSIAPIAPI,KABARROHIL-Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir melalui Dinas Perikanan dan kelautan memberikan bantuan peralatan bagi nelayan Kabupaten Rokan Hilir. Pemberian bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Wabup H.Suyatno kepada kelompok nelayan Cinta Damai, kelompok nalayan Sejahtera dan lebih kurang 13 nelayan tradisional di jalan Pasir kepenghuluan Bagan punak pesisir Bagansiapiapi berupa 99 unit rawai (pancing,red).

Ketua kelompok nelayan Cinta Damai, Safaruddin Yus menerangkan ketika ditemui KABARROHIL bahwa kelompoknya telah menerima bolek (belat jaring,red) tutup sungai sebanyak 10 unit dari Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir melalui Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanlut) Rohil. Penyerahan tersebut berlangsung di Aula Pertemuan kantor Diskanlut rohil jalan kecamatan batu enam, Jumat (21/1). Penyerahan bantuan untuk para nelayan tersebut langsung diserahkan oleh Wabup H.Suyatno kepada 10 orang anggota termasuk ketua kelompok nelayan Cinta Damai. Safaruddin Yus selaku ketua kelompok tersebut mengatakan kelompok nelayan Cinta Damai yang dibentuknya merupakan kumpulan para nelayan berdomisili di kelurahan Bagan Hulu yang rata-rata merupakan nelayan tradisional Kabupaten Rokan Hilir.

Dijelaskannya juga bahwa sebelumnya para kelompok nelayan Cinta Damai telah pula menerima bantuan dari pemdakab Rohil melalui Dinas terkait berupa perahu sebanyak 5 unit (ukuran lebih kurang 2,5 ton). Selaku ketua kelompok nelayan Cinta Damai ia berharap dengan bantuan ini, maka kedepannya dapat meningkatkan hasil tangkapan dari para nelayan sehingga dapat sekaligus meningkatkan taraf ekonomi dari masyarakat nelayan tradisional.

“Mudah-mudahan kedepannya kelompok nelayan kami juga mendapatkan bantuan berupa mesin untuk peningkatan incam perkapita para nelayan terkhusus untuk anggota kelompok kami,”ujar safarrudin Yus.

Sementara itu dihari yang sama, ketua kelompok nelayan Sejahtera, Supriyanto ketika ditemui KABARROHIL juga mengungkapkan hal yang sama. Ia menjelaskan bahwa kelompok nelayan yang dipimpinnya juga mendapat bantuan dari pemerintah Kabupaten Rokan Hilir melalui Dinas Perikanan dan kelautan Rohil berupa mesin diesel merk Daito type RI 6H. Ia mengatakan kelompok nelayannya menerima bantuan mesin sebanyak 33 unit.

"Yang mendapat anggota dan sebagian pengurus yang juga hidup sebagai nelayan,"kata Suprianto alias Agung didampingi penasehat kelompok nelayan Sejahtera M.Silitonga.

Dikatakan oleh Supriyanto bahwa kelompok nelayan sejahtera sebanyak 36 orang merupakan anggota dengan pengurusnya berdomisili di kelurahan Bagan Hulu dan kepenghuluan Bagan Punak. Ia mengatakan masyarakat sangat berterima kasih kepada Pemdakab Rohil terutama kepemimpinan H.Annas Maamun dan H.Suyatno atas bantuan yang diberikan tersebut. Lanjutnya mengatakan, karena dengan bantuan ini maka para nelayan di kelompoknya dapat memperingkas masa waktu.

“Yang jelas kendala dengan tenaga manusia selama ini telah dapat teratasi dengan adanya bantuan mesin sehingga bermanfaat bagi kelompok nelayan Sejahtera. Karena jika dengan mendayung selama ini biasanya hanya dua kali menangkap kelaut. Bahkan jikalau pasang mati harus sampai bermalam dilaut tetapi dengan adanya bantuan mesin ini tentunya dapat terbantu untuk meningkatkan jumlah penangkapan karena dapat mengejar air pasang surut,”tuturnya.

Sedangkan ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Ramli , mengatakan telah diserahkan oleh Wabup H.Suyatno berupa bantuan mesin dan alat tangkap nelayan kepada 56 orang nelayan. HNSI Rohil merasa terharu atas bantuan ini karena dengan bantuan ini para nelayan dapat terbantu dalam upaya meningkatkan hasil tangkapnya. Dengan adanya mesin ini, tambahnya Ramli tentunya selama ini hanya berani dalam jarak dekat bisa kejarak jauh dari bibir pantai.

Ia sangat mendukung upaya Pemdakab Rohil dalam usaha meningkatkan incam perkapita para nelayan tradisional. Diharapkan olehnya bantuan Pemdakab ini dapat dipergunakan sebagaimana mestinya dan tentunya tidak diperjual-belikan.

“Alat ini sebagai pancingan dan umpan agar dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para nelayan yang menerima bantuan. Alat tersebut dijaga dengan baik karena merupakan pemberian. Bantuan ini merupakan wujud rasa kepedulian Pemdakab Rohil terhadap nelayan yang merupakan bagian dari masyarakat Rohil,”ujar Ramli Khulal.(andi wrc/gun)

Selasa, 04 Januari 2011

Di usulkan 15 unit kapal ikan untuk Rohil

BAGANSIAPIAPI,KABARROHIL-Hasil Rapat kerja nasional (Rakernas) Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) yang berlangsung di Jakarta Desember lalu menyatakan provinsi Riau mendapat kapal perikanan >30 GT sebanyak 30 unit dari program 250 unit kapal ikan di tahun 2011 untuk 33 provinsi . Demikian dikatakan oleh ketua terpilih HNSI Rohil Ramli alias kulal ketika ditemui KABARROHIL di jalan Merdeka Bagansiapiapi, Selasa (4/1) kemaren.

“Setelah dirunding-runding karena Rohil merupakan potensi sebagai penghasil ikan maka HNSI Kabupaten Rokan Hilir mengusulkan sebanyak 15 unit kapal perikanan,”terang Ramli kepada KABARROHIL.

Ia menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan program aksi utama Ditjen perikanan tangkap di bidang restrukturisasi armada perikanan sesuai dengan amanat inpres nomor satu tahun 2010 tentang percepatan pembangunan nasional adalah pembangunan kapal perikanan > 30 GT sebanyak 1000 unit sampai dengan tahun 2014.

Dikatakannya khusus pada tahun 2011 ini direncanakan pembangunan kapal dimaksud sebanyak 250 unit di 33 provinsi dengan rincian sebanyak 125 unit melalui APBN dengan anggaran Rp187,5 milyar dan 125 unit melalui DAK juga dengan anggaran Rp187,5 milyar.

“Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Dr.Ir.Dedy H.Sutrisna,Ms pada Rakernas HNSI di Jakarta lalu,”tutur Ramli.

Ia mengatakan bahwa kapal perikanan tersebut per unit diperkirakan menelan biaya Rp 1,5 milyar yang disampaikan ketua komisi IV DPR RI Drs H.Akhmad Muqowan di Rakernas HNSI sebagai salah satu program-program yang pemberdayaan masyarakat 2011 di bidang pengadaan kapal nelayan.

“Mudah-mudahan HNSI Rohil bersama Dinas Perikanan dan Kelautan ikut bersama-sama berjuang agar di Kabupaten Rokan Hilir khususnya kota Bagansiapiapi yang telah dikenal sejak dahulu dengan penghasil ikannya mendapatkan kapal ikan tersebut,”tandasnya. (andi wrc)

Jumat, 10 Desember 2010

Diskanlut Rohil mengawasi Perairan terhadap ilegal fishing

BAGANSIAPI-API ,KABARROHIL- Zone Perairan Kabupaten Rohil termasuk daerah rawan masuknya nelayan-nelayan asing dari pelbagai negara. Mengingat perairan Zone Ekonomi Eklusif (ZEE) Kabupaten Rohil berada di jalur strategis lantaran berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia dan Singapore yang hanya dibatasi oleh Selat Malaka. Oleh sabab itu pihak Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanlut) Rohil mengintensifkan pengawasan di perairan Rohil tersebut.

''Kemungkinan-kemungkinan seperti itu bisa saja terjadi. Karena, daerah perairan kita ini sangat strategis sekali. Apalagi berbatasan langsung dengan beberapa negara tetangga yang salah satu diantaranya adalah Malaysia,'' kata Kepala Diskanlut H.Muhammad Rusli Syarief.S.sos ketika dihubungi KABARROHIL,Jumat (10/12) di Bagansiapiapi.

Berkaitan dengan itu, Rusli menambahkan bahwa pengawasan dan pemantauan di perairan Kabupaten Rohil telah semakin diintensifkan. Malahan pengawasannya itu sendiri dilakukan dengan mengoptimalkan semua potensi yang ada, termasuk melibatkan unsur para nelayan.

''Kita kan tau, nelayan sering berada di tengah laut. Untuk itu, para nelayan ini perlu kita turut sertakan. Minimal, nelayan bisa memberikan informasi secepatnya bila ditemukan adanya nelayan-nelayan asing yang masuk dan beroperasi di perairan kita,'' kata Rusli.


Dikatakan Kepala Diskanlut ini, nelayan juga bisa memberikan informasi terhadap adanya kegiatan ilegal fishing yang beroperasi di perairan Rohil. ''Kita harus akui, bahwa pengawasan yang kita lakukan itu kan ada keterbatasan. Makanya, kita perlu dukungan dan peran serta dari para nelayan. Makanya, kalau nelayan ada mengetahui nelayan asing maupun ilegal fishing, maka secepatnya informasikan kepada kita. Dengan melibatkan semua potensi yang ada itu, diharapkan pengawasan perairan bisa semakin ketat lagi,'' kata Rusli.

Dijelaskannya, perairan Rohil yang menjadi pusat kegiatan para nelayan yakni berada di Gugusan Kepulauan Aruah, Kecamatan Pasirlimau Kapas. Gugusan Kepulauan Aruah tersebut merupakan gabungan dari beberapa pulau. Diantara Pulau Jemur, Pulau Labuhbilik, Pulau Sarangolang, Pulau Tukong, Pulau Tukongsimbang, Pulau Batumandi dan lainnya. Pulau terdekat dengan negara Malaysia khususnya ke Port Klang yakni Pulau Batumandi. (andi wrc)

Jumat, 04 September 2009

Hasil Perairan Rohil dijarah

WARGA MENGELUH HASIL LAUT WILAYAH PERAIRAN DIJARAH PENANGKAP LUAR ROHIL

BAGANSIAPIAPI,KABARROHIL-Masyarakat daerah pesisir kota Bagansiapiapi mengeluhkan adanya penjarahan hasil laut di wilayah zone ekonomi ekslusif (ZEE) kabupaten Rokan Hilir (Rohil) khususnya penangkap jaring kerang. Untuk itu diharapkan kepada pihak terkait dapat menangkap para nelayan yang menggunakan alat Garut Salome yang dapat menghabiskan habitat dan terumbu karang itu. Demikian ungkap M.Nasir seorang nelayan tradisional kota Bagansiapiapi yang mewakili teman seprofesinya kepada KABARROHIL, Rabu (2/9) kemaren

Ia mengatakan bahwa dirinya bersama para nelayan lainnya jika pergi melaut secara berkelompok kelompok dan sering menemukan nelayan luar menjaring di wilayah Rohil.

"Kami adalah kelompok nelayan tradisional. Kami melaut secara berkelompok dan terkadang menemukan para nelayan luar tersebut menjaring di wilayah Rohil," kata M.Nasir dengan polos.

Ia mengatakan bahwa dirinya sehari hari hanya mencari hasil laut berupa kerang dan ketam serta jenis-jenis ikan laut yang mempunyai kebiasaan hidup disekitar pinggiran pantai saja. Setelah dirinya mendapatkan hasil laut yang telah dikumpulkan itu maka Ia pun menjualnya sendiri di Pasar.

"Guna menopang kehidupan sehari hari bagi keluarga kami masing masing,"tuturnya dengan nada menurun.

Ia menjelaskan bahwa pada beberapa bulan yang lalu penghasilannya mengalami peningkatan setiap Ia pergi melaut. Namun pada saat sekarang, tambahnya penghasilannya mengalami turun drastis.

"Demikian pula yang dirasakan oleh para nelayan tradisional mengunakan jaring dan rawai,"jelasnya.

M.Nasir mengatakan bahwa penurunan penghasilan yang di alaminya karena banyak beroperasi penangkap-penangkap ikan dan kerang yang menggunakan alat canggih dan mereka semua bukan nelayan tempatan yang dikenal oleh masyarakat nelayan diperairan Rokan Hilir

"Alat pengumpul kerang yang di rancang sedemikian rupa tersebut lazim disebut masyarakat dengan GARUT SALOME,"katanya.

Dijelaskannya bahwa melihat dari bentuk dan sistim kerja GARUT SALOME itu bisa menyebabkan kepunahan jenis habitat di perairan kabupaten Rokan Hilir serta rusaknya terumbu karang dasar laut pantaI sebagai tempat mencari makan ikan-ikan yang hidup diperairan pinggir pantai.

Masih menurut M.Nasir, menerangkan bahwa nelayan-nelayan yang mengunakan garut salome tersebut pada umumnya mereka itu datang dari wilayah luar kabupaten Rohil .

"Rata-rata kerang yang dapat mereka kumpulkan sebanyak 1000 goni dalam dua hari perkapalnya," katanya Nasir menerangkan.

Untuk menjaga hal-hal yang tidak di inginkan serta menjaga kelangsungan hidup dan manfaat hasil laut, lanjutnya maka diharapkan peran aktif pihak-pihak yang terkait dalam menjaga keamanan lingkungan diperairan wilayah kabupaten Rohil tersebut.

"Sesuai kewenangannya untuk menjaga dan melindungi wilayah perairan kita,"katanya Naser.

"Kita berharap para oknum-oknum pelaku penangkapan dengan menggunakan
GARUT SALOME dapat ditindak sesuai dengan undang undang yang berlaku,"tandasnya kemudian. (Andi WRC)