Rabu, 05 Desember 2012

Terkait asumsi pajak menurun, DPRD Rohil bakal hearing Dispenda



BAGANSIAPIAPI,KABARROHIL-Diharapkan Dispenda Rokan Hilir supaya bekerja lebih giat lagi sehingg Pendapatan Asli daerah (PAD,red) bertambah. Dimana kendalanya sehingga PAD menurun maka diharapkan diberitahukan permasalahannya ke DPRD Rokan Hilir. Demikian ditegaskan oleh ketua Komisi I  anggota DPRD Rokan Hilir (Rohil) Dedi Humadi kepada KABARROHIL ketika ditemui di kedai kopi Medan Baru jalan Perniagaan Bagansiapiapi, Rabu (5/12/2012).

 “Jika perlu bantuan DPRD maka anggota DPRD Rokan Hilir siap membantu,” kata Dedi Humadi.

Disebutnya, pemerintah daerah jangan hanya berpatok kepada dana perimbangan saja. Pemerintah daerah khususnya Dispenda harus serius untuk menggali PAD dengan serius. Dijelaskannya, waktu pembahasan perda lalu Kadispenda Rokan Hilir berjanji enam bulan setelah disahkan Perda asumsi PAD bias meningkat dan dirinya siap hearing dengan DPRD Rokan Hilir. Namun kenyataannya, sebut Dedi Humadi, sudah setahun setengah tahun lalu disahkan Perda malah asumsi menurun.

“Dinas bersangkutan tidak serius dan tidak pro aktif untuk mengejar agar PAD meningkat,”ujarnya.

Atas menurunnya asumsi tersebut, lanjut Dedi Humadi mengatakan kendalanya tentunya Dinas yang bersangkutan tidak betul-betul serius dalam menjalankan Perda yang telah disahkan oleh DPRD Rohil. Salah satu contoh, dijelaskan Politisi Golkar Rohil ini, pajak penangkaran sarang burung wallet ketika melalui peraturan bupati mencapai 1,5 milyar rupiah namun kenapa setelah disahkan perda asumsi hanya mencapai 500 milyar rupiah saja.

Hal yang sama juga terjadi pada pendapatan dari retribusi parker, Dedi Humadi menambahkan setelah disahkan perda nyatanya retribusi parker hanya 20 juta rupiah dalam setahun. Sedangkan nyatanya, lanjut Dedi Humadi setelah di kroscek di lapangan terutama di kecamatan Bagan Sinembah pedapatan retribusi parker bias mencapai minimal 10 juta rupiah sehari.

“Hitung saja sendiri berapa uang akibat terbengkalainya dalam menarik retribusi parker dilapangan untuk mendokrak PAD. Langkah DPRD Rokan Hilir kedepan akan memanggil Dinas Pendapatan Daerah Rokan Hilir mengapa hal ini sampai terjadi karena DPRD Rokan Hilir sebagai pengawasan,”tandas Dedi Humadi. (krc 01)


Puluhan unit Rumah jalan Bhakti Panipahan ludes terbakar



PANIPAHAN,KABARROHIL-Sedikitnya 17 unit  rumah jalan bhakti Panipahan kecamatan Pasir Limau Kapas (Palika,red) ludes dilalap sijago merah. Insiden tersebut terjadi diketahui sekira waktu menunjukkan jam 15.00 wib, Selasa (4/12/2012) kemaren.

“Pertama kali diketahui asal api dari bangunan yang dikenal dengan sebutan bina ria kemudian api menjalar ke bangunan terdekat,”tutur salah satu warga jalan Bhakti Panipahan Darat, Khairul Amri,SPdi kepada KABARROHIL.

Dijelaskannya bahwa api sulit dipadamkan karena angin bertiup kencang sementara upaya pemadaman dilakukan warga bersama dengan pihak kecamatan kepenghuluan secara manual yakni dengan peralatan seadanya dari tampungan bak warga terdekat. Hal tersebut karena air laut saat ini sedang surut..

Sekretaris camat Palika, M.Sidik,Sag secara terpisah menerangkan pemadaman baru membuahkan hasil sekira jam 17.30 wib, sedangkan penyebab kebakaran belum diketahui.

“Sedikitnya 17 pintu hangus, termasuk yang dirubuhkan agar api tidak meluas. Namun data ini baru sementara, untuk validnya akan didata ulang. Selain rumah warga juga dua unit bangunan fasilitas pelayanan pulik turut terbakar yakni pos pengamanan kepolisian yang dulunya Mapolsek Panipahan dan kantor PLN ranting Panipahan,”tutur Sekcam Palika ini.

Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini namun diperkirakan kerugian mencapai milyaran rupiah. Hal ini dari asumsi biaya pembangunan di daerah pesisir wilayah kabupaten Rokan Hilir yang cukup mahal. Sedangkan bangunan yang ludes tersebut merupakan kedai kopi, bengkel kenderaan, toko emas, toko keleontong dan rumah warga lainnya.

Diharapkan untuk sementara pihak yang mengalami musibah mengungsi di keluarga terdekat. Disebutnya pihak pemerintah kabupaten Rokan Hilir dalam hal ini Dinas social dan kesra sudah mengetahui kejadian ini.

“Rata-rata untuk pembangunan fisik saja setidaknya mencapai 300 juta rupiah per unit rumah. Itu belum ditambah lagi dengan barang-barang isi didalam rumah, jadi diperkirakan milyaran rupiah. Namun tepatnya belum di kalkulasikan,”tandasnya. (krc 01)


Selasa, 04 Desember 2012

Panipahan membara lagi, Puluhan rumah dilalap sijago merah



BAGANSIAPIAPI,KABARROHIL-Panipahan membara lagi. Sijago merah menghanguskan sedikitnya 22 rumah di jalan Bhakti Panipahan kecamatan Pasir limau kapas (Palika), Selasa (4/12/2012). Demikian diungkap oleh salah satu warga Panipahan Azmir melalui telepon selulernya.

Api mulai membesar dan menjalar sejak waktu diperkirakan menunjukkan pukul 15.45 wib di jalan Bhakti Panipahan. Dikatakannya, sekitar 22 rumah  diberangus oleh sijago merah dan sekitar 15 rumah diantaranya hangus, termasuk kantor  PLN dan pos polisi.

“Kalau diperkirakan ada sekitar 22 rumah yang terbakar termasuk yang dirobohkan,”katanya..

Dia menjelaskan pemadaman dilakukan dengan pompa diesel sebanyak sekitar 10 pompa air. Warga masyarakat sempat panik atas insiden kebakaran tersebut. Namun karena sifat kegotong-royongan mereka bersama-sama mengatasi kebakaran tersebut.

“Akhirnya sekitar jam 18.00 wib api sudah bisa dijinakkan,”tandasnya. (krc 01)

Acara dibuka Bupati H. Annas Maamun, Kemenkes RI dan Diskes Rohil gelar Sosialisasi eliminasi filariasis



BAGANSIAPIAPI,KABARROHIL-Sosialisasi program eliminasi filariasis (penyakit kaki gajah,red) digelar di aula lantai II kantor Bappeda Rokan Hilir jalan Perniagaan Bagansiapiapi,Selasa(4/12/2012). Sosialisasi tersebut dilakukan oleh Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Ditjen PP dan PL Kemenkes RI bersama Dinas Kesehatan Rohil. Hadir sekaligus membuka acara itu bupati kabupaten Rokan Hilir H.Annas Maamun. Tampak mengikuti acara itu sejumlah kepala dinas, camat dan kepala Puskesmas.

orang nomor satu di Rohil ini menegaskan pemerntah rokan hilir sangat perhatian di sektor kesehatan, selanjutnya sektor pendidikan dan infrastruktur. Disebutnya SKPD terkait dalam mengusulkan anggaran berdasarkan prioritas dan bukan bagi rata. Lanjutnya mengatakan dimasa mendatang juga harus diperhatikan eliminasi terhadap  filariasis. Karena disebut politisi Golkar ini, warga rohil masih ada terdetiksi filariasis.

"Kita harus perhatikan betul-betul terhadap mereka yang terkena penyakit kaki gajah ini,"ujar Annas.

Sedangkan kadiskes Rohil dr H.M junaidi ,M,Kes pada hari yang sama kepada KABARROHIL menjelaskan di Rokan Hilir terditeksi 15 orang penderita filariasis di tiga kecamatan yakni di kecamatan Kubu, kecamatan Pasir limau kapas dan kecamatan Tanah putih sedinginan.

Ditambahkannya, mengeliminasi penyebaran penyakit ini bakal dilakukan pemberian obat massal pencegahan filariasis (POMPF) kepada warga masyarakat dari usia 2 tahun hingga usia 75 tahun. Namun pemberian obat vaksin tersebut dilarang bagi penderita penyakit ginjal, liver dan penyakit kronis lainnya.

"Kemungkinan aksi nyata baru dilaksanakan pada awal tahun 2013 mendatang. Mengingat perlu penataran kader serta persiapan dan kesiapannya. Obat selama lima tahun ditanggung oleh WHO, sedangkan biaya operasional selama dua tahun oleh pemerintah pusat dan tiga tahun pemdakab Rohil,"tandasnya. (krc 01)

Filariasis, di Kecamatan Palika dari tahun 2008 hingga 2012 terdata 15 Kasus



BAGANSIAPIAPI,KABARROHIL-Sejak empat tahun kebelakang yakni dari tahun 2008 hingga tahun 2012, di kecamatan Pasir Limau Kapas (Palika,red) terdata 15 temuan penderita filariasis (penyakit kaki gajah,red). Hal tersebut disampaikan oleh kepala Puskesmas Panipahan kecamatan Pasir Limau Kapas, dr Netti Jualiana kepada wartawan di sela mengikuti kegiatan sosialisasi eliminasi Filariasis program pemberian obat massal pencegahan Filariasis (POMPF) yang di lakukan oleh Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Ditjen PP dan PL Kemenkes RI bersama Dinkes Rohil di Aula lantai II Kantor Bappeda Rohil jalan Perniagaan Bagansiapiapi, Selasa (4/12/2012).

“Untuk di kecamatan Pasir Limau Kapas terdata 15 kasus sejak tahun 2008,”terang dr Netti.

Dia menjelaskan, temuan kasus sebanyak itu lanjutnya mengatakan tidak terlepas dari fakta memang penyakit menular itu banyak ditemukan diwilayah iklim tropis dengan dataran rendah. Meskinpun demikian, ditambahkannya, kondisi penderita filariasis tidak dalam taraf membehayakan. Dikatakannya, pihak Puskesmas tetap memberikan pengobatan dan melakukan monitoring di bawah pemegang program terkait.

“Kondisi Pasir Limau Kapas tergolong kawasan pesisir dengan kondisi pedesaan pantai sebagian sawah, rawa-rawa dan hutan. Hal  ini tergolong sebagai endemis filariasis,”terangnya. (krc 01). .