“Tentang
taktik warga sipil yang usil, disiplin putri perwira, dan ombak takdir yang
menuntun mereka ke pelabuhan berbeda.”
Dermaga
Masing-Masing
Sebuah Novel Fiksi Oleh: GANDI GONAKOVIC
Catatan:
"Novel ini adalah
karya fiksi. Beberapa nama tempat dan latar dalam buku ini menggunakan lokasi
nyata untuk keperluan cerita, namun karakter, kejadian, dan plot di dalamnya
sepenuhnya adalah rekaan penulis."
BAGIAN
PERTAMA
BENTURAN
DUA KUBU
(Masa
Orientasi dan Awal Kelas)
PROLOG
Pagi di Kota Pelabuhan
Hujan semalam menyisakan hawa dingin yang
jarang terjadi di kota pelabuhan ini. Biasanya, jam tujuh pagi saja matahari
sudah sanggup membuat kulit kepala terasa gatal. Tapi, hari ini sangat berbeda.
Kota seolah sedang berbaik hati memberikan sambutan hangat bagi kami, anak-anak
yang akan mengenakan seragam baru kami.
Bagiku, Andi Gunawan Riotallo, hari ini
adalah babak baru yang dinanti-nanti. Selamat tinggal masa SMP yang membosankan
dengan guru-guru yang hafal mati semua trik membolos. SMA artinya kebebasan
baru, teman-teman baru, dan tentu saja—target-target baru untuk dijahili.
Sambil
menyandang tas ransel yang sengaja digantung longgar di satu bahu, aku bersiul
kecil menyusuri trotoar. Di dalam benak kepalaku sudah membayangkan masa SMA
yang penuh warna seperti di film-film remaja: nongkrong di kantin saat jam
kosong, ikut ekskul keren, atau tebar pesona kepada murid-murid perempuan.
Aku melangkah dengan penuh percaya diri menuju
sebuah papan nama besi yang menjulang di ujung jalan. Aku merasa siap
menaklukkan dunia remaja ini dengan senyum cengengesanku.
Aku merasa menjadi anak
paling percaya diri di dunia. Setidaknya, sampai aku melihat seorang gadis di
bawah pohon beringin yang menatapku seolah-olah aku adalah sebaris kode eror
yang harus segera dimusnahkan.
------------------------------
Bab
1
Gerbang
Lumba-Lumba
Aroma aspal basah sisa hujan semalam
menyambut langkah kakiku, Andi Gunawan Riotallo, di depan gerbang besi
bertuliskan "SMA Hang Tuah Jalan Lumba-Lumba". Bagiku, nama jalan
sekolah ini terdengar agak menggelikan. Seolah-olah kami semua adalah kawanan
mamalia laut yang siap melompat-lompat riang.
Ketika melihat kerumunan remaja berseragam
putih-biru yang berdesakan di papan pengumuman, aku tahu ini bukan tempat
bermain topeng monyet. Ini adalah medan perang baru bernama masa SMA.
Aku menyelip di antara ketiak dan bahu
anak-anak lain. Postur tubuhku yang lumayan tinggi memberikan keuntungan fisik.
Mataku menyusuri deretan kertas koran yang ditempel di papan tripleks.
"Riotallo... Rio... Ah, ini dia! Andi
Gunawan Riotallo. Diterima!" gumamku pelan. Sebuah senyum lebar terukir di
wajahku. Aku mengepalkan tangan ke udara, mengabaikan tatapan sinis dari
seorang anak berkacamata di sebelahku yang tampaknya belum menemukan namanya
sendiri.
Kegembiraanku tidak bertahan lama ketika
peluit nyaring melengking membelah udara lapangan sekolah.
Preeeeeet!
"Seluruh siswa baru, segera berkumpul
di lapangan utama! Berbaris sesuai kelompok MOS yang sudah dibagikan lewat
papan pengumuman! Cepat, jangan ada yang lambat!" teriak seorang panitia
berkemeja OSIS dengan ban lengan merah. Aku mendesah, buru-buru berlari menuju
lapangan yang mulai dipenuhi lautan manusia.
Masa Orientasi Siswa resmi dimulai. Di
bawah terik matahari pagi yang mulai menyengat, aku terjebak dalam barisan Peraturan
Baris Berbaris (PBB) Kelompok 5. Setelah dua jam mendengarkan materi pengenalan
atribut sekolah dan yel-yel yang dipaksakan, panitia akhirnya memberikan waktu
istirahat lima belas menit.
"Aduh, bisa keriting ini kaki,"
keluhku sambil berjalan gontai mencari tempat berteduh.
Sebagian besar murid langsung menyerbu
kantin atau duduk bergerombol di selasar kelas, mengipas-ngipas wajah mereka
dengan topi. Seketika pandanganku justru tersangkut pada sebuah bangku semen di
bawah pohon beringin besar di pojok lapangan.
Di sana, duduk seorang siswi sendirian.
Aku langsung teringat—dia gadis yang tadi pagi menatapku tajam di dekat
gerbang, seolah aku adalah sebaris kode eror yang mengganggu pemandangan.
Di saat murid perempuan lain duduk
bersandar lunglai karena kelelahan, siswi ini berbeda. Tampak punggungnya tegak
lurus, membentuk sudut sembilan puluh derajat yang sempurna menyandar di bangku
semen. Rambutnya yang panjang diikat ekor kuda dengan sangat rapi, tidak ada
satu helai pun yang mencuat berantakan. Ia sedang membaca sebuah buku catatan
kecil bersampul doreng samar.
Jiwa usilku yang sempat tertidur selama
dua jam langsung melek seketika. Prinsipku, melihat orang yang terlalu serius
di tengah hari bolong adalah sebuah undangan terbuka untuk diganggu.
Aku berjalan santai mendekati pohon
beringin. Begitu jaraknya tinggal dua langkah, aku sengaja melonggarkan
pegangan pada topi pramukaku.
Puk. Topi itu jatuh tepat di atas ujung
sepatu hitam mengilat milik si siswi.
Aku pura-pura terkejut. "Aduh,
jatuh," ujarku dengan nada teatrikal yang dibuat-buat. Aku berjongkok
lambat-lambat, mengambil topi, lalu sengaja tidak langsung berdiri. Aku
mendongak, menatap langsung wajah gadis itu dari bawah. "Hei. Kamu dari
tadi diam saja di sini. Takut ya sama kakak senior yang galak-galak itu?
Atau... lagi sariawan dua puluh biji di dalam mulut?"
Gadis itu tidak bergeming. Ia bahkan tidak
menurunkan buku catatannya. Hanya matanya yang bergerak turun, menatapku yang
masih berjongkok dengan pandangan sedingin es di kutub utara.
"Ambil topimu," kata gadis itu
pendek. Suaranya rendah, bersih dari nada ramah-tamah khas remaja putri pada
umumnya.
Aku malah terkekeh. Bukannya menjauh, aku
justru berdiri lalu menjatuhkan pantatku di atas bangku semen, tepat di sebelah
gadis itu tanpa permisi. "Galak amat, Sis. Kenalan dong, aku Andi. Andi
Gunawan Riotallo. Kamu dari tadi kaku banget, tahu tidak? Kayak patung selamat
datang di pangkalan militer."
Prak!
Gadis itu menutup buku catatannya dengan
hentakan satu tangan yang cukup keras hingga menimbulkan gema kecil. Ia memutar
tubuhnya, menghadap penuh ke arahku. Tatapan matanya lurus, tajam, dan sama
sekali tidak berkedip. Aku yang awalnya mau tertawa, mendadak merasa seperti
sedang disidang oleh guru bimbingan konseling.
"Nama saya Dyah Ayu Kirana,"
ujar gadis itu. Setiap suku katanya diucapkan dengan penekanan yang tegas.
"Dan asal kamu tahu, saya tidak punya waktu untuk takut pada senior OSIS,
apalagi pada anak usil yang tidak punya sopan santun seperti kamu. Karena Ayah
saya Perwira TNI Angkatan Laut. Di rumah, jangankan cuma gertakan panitia
orientasi, perintah komando operasi saja sudah jadi makanan saya sehari-hari.
Jadi, silakan cari objek lain kalau kamu mau main-main. Paham?"
Aku spontan menelan ludah. Tenggorokanku
mendadak terasa kering. Nyaliku yang tadi menggebu-gebu langsung menyusut
separuh melihat aura disiplin yang memancar dari putri seorang perwira laut
ini. Gaya bicaranya yang menggunakan kata 'saya' alih-alih 'aku' semakin mempertegas
jarak di antara kami.
"Wah, anak tentara ternyata..."
Aku mencoba menyelamatkan muka dengan senyum cengengesan, meski badanku refleks
bergeser menjauh beberapa sentimeter. "Pantas saja duduknya tegap banget.
Siap, Nona Perwira! Jangan tembak saya, saya cuma warga sipil yang ramah."
Dyah tidak membalas candaan itu. Ia hanya
mendengus pelan, membuka kembali buku catatannya, dan mengabaikan keberadaanku
sepenuhnya. Seolah-olah pria di sebelahnya ini hanyalah seonggok oksigen
tambahan di bawah pohon beringin.
Aku memperhatikan profil samping wajah
Dyah dari sudut mataku. Ada rasa kesal karena diabaikan, tapi di lubuk hatiku
yang paling dalam, ada rasa penasaran yang mulai tumbuh.
Dyah Ayu Kirana, batinku sambil tersenyum
tipis. Masa SMA-ku sepertinya tidak akan membosankan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar