BAB 1: Teguran di Teras Surau
Narasi
Pengantar:
Senja
itu di pesisir Muara Sei Rokan, angin berembus agak kencang membawa aroma air
pasang. Wak Koba duduk meluruskan kaki di tangga surau tua, memperhatikan
anak-anak kampung yang sibuk kejar-kejaran dengan riang, padahal suara azan
Magrib baru saja usai berkumandang. Ketika dipanggil untuk makan malam, mereka
berlarian berebut paling depan. Namun saat disuruh mengambil wudu untuk
mengaji, mereka mendadak pura-pura lesu. Wak Koba berdeham pelan, lalu berseru
lantang melantunkan bait bekoba lama...
Bait Bekoba:
Suwoung
papan tayek papan,
Buah
koranji ditimpo dalam perawu,
Disuwouh
makan awak makan,
Disuwouh
mengaji kenapo awak tak mawu.
Glosarium
Mini:
* *Suwoung:* Sorong
*
*Tayek:* Tarik
*
*Koranji:* Keranji (sejenis buah hutan)
*
*Ditimpo:* Ditimpa / Dimasukkan/Diletakkan
*
*Perawu:* Perahu
*
*Disuwouh:* Disuruh
*
*Awak:* Kamu / Dirimu
*
*Tak mawu:* Tidak mau
Pesan Bijak Wak
Koba:
Pantun
tradisional ini merupakan sindiran halus namun menohok tentang keseimbangan
hidup. Wak Koba mengingatkan kita semua agar jangan hanya bersemangat dalam
mengejar kebutuhan fisik atau urusan duniawi semata (“disuwouh makan awak makan”),
tetapi justru menjadi pemalas atau enggan ketika diajak menuntut ilmu agama dan
merawat rohani (“disuwouh mengaji kenapo awak tak mawu”).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar