Sabtu, 26 September 2026

WAK KOBA BEKOBA

BAB 1: Teguran di Teras Surau

 

Narasi Pengantar:  

Senja itu di pesisir Muara Sei Rokan, angin berembus agak kencang membawa aroma air pasang. Wak Koba duduk meluruskan kaki di tangga surau tua, memperhatikan anak-anak kampung yang sibuk kejar-kejaran dengan riang, padahal suara azan Magrib baru saja usai berkumandang. Ketika dipanggil untuk makan malam, mereka berlarian berebut paling depan. Namun saat disuruh mengambil wudu untuk mengaji, mereka mendadak pura-pura lesu. Wak Koba berdeham pelan, lalu berseru lantang melantunkan bait bekoba lama...

 

Bait Bekoba:  

Suwoung papan tayek papan,  

Buah koranji ditimpo dalam perawu,  

Disuwouh makan awak makan,  

Disuwouh mengaji kenapo awak tak mawu.  

 

Glosarium Mini:  

* *Suwoung:* Sorong  

* *Tayek:* Tarik  

* *Koranji:* Keranji (sejenis buah hutan)  

* *Ditimpo:* Ditimpa / Dimasukkan/Diletakkan  

* *Perawu:* Perahu  

* *Disuwouh:* Disuruh  

* *Awak:* Kamu / Dirimu  

* *Tak mawu:* Tidak mau  

 

Pesan Bijak Wak Koba:  

Pantun tradisional ini merupakan sindiran halus namun menohok tentang keseimbangan hidup. Wak Koba mengingatkan kita semua agar jangan hanya bersemangat dalam mengejar kebutuhan fisik atau urusan duniawi semata (“disuwouh makan awak makan”), tetapi justru menjadi pemalas atau enggan ketika diajak menuntut ilmu agama dan merawat rohani (“disuwouh mengaji kenapo awak tak mawu”).

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar