Selasa, 26 Maret 2013

Dishub menertibkan lalin jenderal Sudirman



Bagan batu,KABARROHIL-Penertiban arus lalu lintas di jalan sudirman khususnya di pajak lama baganbatu dilaksanakan oleh dinas perhubungan, Senin (18/3/2013) kemaren. Hal tersebut sebagai antisipasi agar tidak terjadinya kemacetan lalu lintas di jalan tersebut. Demikian dikatakan oleh Kadis Perhubungan dan kominfo Rohil Drs Sukma Al falah melalui ka UPTD Dishub M.Yusuf didampingi staffnya Sahwiro kepada KABARROHIL ketika ditemui di lokasi, Senin (18/3/2013).



 “Pnertipan arus lalulintas dilakukan demi tidak terjadinya Kemacetan bagi para pengguna jalan dan juga dapat menghindari LAKALANTAS,”katanya.

Dia menjelaskan mereka melakukan penertipan untuk mengatur dan menertipkan kenderaan parkir di sepanjang jalan pajak lama demi mencegah kemacetan  Dia mengatakan kegiatan ini merupakan kegiatan rutin dilaksanakan oleh pihak UPTD.

Dalam kesempatan ini dia menghimbau agar masyarakat dapat memenuhi peraturan lalulintas dan memarkir kenderaannya di tempatnya. Dia juga menghimbau agar warga masyarakat saling menjaga keamanan dan ketertiban sehingga jalan lintas tidak semberaut.

“Kranya dapat bekerja sama demi kepentingan umum,dan Masyarakat luas khususnya kecamatan Bagan sinembah ini,”tandasnya. (IKN).

Masyarakat Labuhan Tangga Kecil butuh pembangunan jembatan



Labuhan Tangga Kecil,Kabarrohil- Warga masyarakat  RT.01 Desa  labuhan tangga Kecil   mengharap  agar Pemkab Rohil membangun jembatan yang berada di depan mushola Nurul Hidayah RT 01 desa labuhan tangga Kecil. Pasalnya, keberadaan jembatan tersebut merupakan sarana vital untuk menghubungkan antara jalan Sekolah dengan Jalan Tuk Kapal di Desa Labuhan Tangga Kecil.

Melihat Kondisi jembatan kayu ini sudah sangat memprihatinkan dimakan usia.beberapa kali masyarakat telah mengumpulkan dana untuk  membangun jembatan tersebut secara swadaya,namun dikarenakan keterbatasan dana pelaksanaannya hanya mampu dibangun se adanya.

Tokoh masyarakat setempat telah mencoba mengajukan proposal pembangunan jembatan tersebut kepada Dinas terkait namun sampai saat ini tidak terealisasi. Hal ini di tegaskan oleh Haryanto ketua Mushola Nurul Hidayah Kepada wartawan dikediamannya jalan Sekolah RT 01 desa labuhan tangga kecil, Kamis (21/03/2013).

Menurut Haryanto,pembangunan jembatan ini sangat dibutuhkan oleh warga,kerena merupakan akses ekonomi dan juga akses dunia pendidikan. Disamping itu jembatan ini juga sebagai akses warga untuk menuju mushola Nurul Hidayah.

‘’Masyarakat sulit untuk mengangkut hasil pertanian baik itu kelapa,sawit dan lainnya,karena jembatannya rusak parah, anak –anak sekolah juga cukup riskan untuk melewati jembatan ini,takut nantinya bisa roboh,’’kata Haryanto kepada wartawan.

‘’Kami sudah sering gotong royong untuk memperbaikinya,tapi itu membutuhkan dana yang besar untuk membeli bahan bahan bangunannya,sedangkan ekonomi warga disekitar sini tergolong lemah,’’ujarnya.

‘’Untuk itu kami berharap sekali kepada pemerintah,agar dapat membangun jembatan ini,sebab kondisi jembatan seperti ini  apabila dibiarkan dikhawatirkan akan menelan korban,’’tutup Haryanto –(mg)

MUSIM PACEKLIK TIBA,PETANI SAWIT MENGELUH



Labuhan Tangga Kecil –Kabarrohil-Perubahan iklim yang ekstrem dalam beberapa bulan terakhir,mengakibatkan anjloknya hasil panen petani,khususnya petani disektor kebun kelapa sawit. Kondisi seperti ini sudah hampir delapan bulan di alami sehingga produksi TBS (Tandan Buah Sawit) yang biasanya mencapai antara 800 kg sampai 1000 kg per hektar , namun kini hanya menghasilkan 400 kg sampai 500 kg  per hektar tiap kali panen. Penurunan produksi TBS ini sudah mencapai 50 % sampai  60 %, ditandai dengan pasokan TBS di pasaran menurun.

Eli Pardi,ketua kelompok tani Semoga Jaya desa Labuhan Tangga kecil yang juga dipercaya sebagai agen pengumpul buah sawit,kepada wartawan mengungkapkan keluhan nya,’’sudah hampir tujuh bulan sejak banjir dan kemarau hasil panen petani disini menurun cukup jauh . Biasanya untuk lahan satu hektar masyarakat bisa memanen  800 sampai satu ton, namun saat ini hanya bisa menghasilkan  lima kwintal saja’’.

Disebutnya, sebagai solusi untuk meningkatkan produksi panen, bagi mereka yang memiliki kebun kebun luas, dapat membeli pupuk.,tapi bagi  yang kebunnya hanya satu hektar,mana mungkin mampu untuk membeli pupuk.

“Untuk biaya makan saja tidak cukup,”ungkap Eli Pardi yang juga Ketua RT 02 labuhan tangga kecil ini.

Hal senada juga di utarakan oleh agen pengumpul buah sawit lainnya,  Darwin. Dia mengatakan penghasilan petani dinilai jauh menurun.

’’Kasihan petani, panen sawit menurun jauh. Penghasilan mereka pasti tidak mencukupi kebutuhan sehari hari. Saat harga jual buah sawit mencapai seribu dua ratus per kg, buah sawit disini malah banyak yang tidak berbuah. Mungkin ini yang di namakan musim paceklik,’’kata Darwin menebak. (Mg)

Pelabuhan Oliong Bagansiapiapi tempat Naiknya penumpang.



BAGANSIAPIAPI,KABARROHIL-Pelabuhan pribadi milik pengusaha Oliong di jalan Nelayan Bagansiapiapi dipergunakan sebagai tempat atau dermaga  turun naiknya penumpang  dari Bagansiapipi  menuju Kubu, Panipahan, serta Pulau Halang dan teluk bano,suak air hitam atau sebaliknya, Kamis (21/3/2013).


Biasanya turun naiknya penumpang ini menggunakan pelabuhan pelindo jalan Utama Ujung Bagansiapiapi. Namun semenjak pelabuhan tersebut rusak dan mengkuatirkan terhadap keselamatan penumpang akhirnya para pengusaha ferry lebih memilih menurun-naikan penumpang di pelabuhan pribadi milik pengusaha bernama oliong yang ada di jalan pelabuhan baru bagansiapiapi itu.

“Untuk di Bagansiapiapi, hanya satu pelabuhan yang digunakan oleh pengusaha ferry,”tutur Maruli (37) salah seorang warga pelabuhan baru kepada KABARROHIL ketika ditemui.

Dia menyebut dengan adanya pelabuhan permanen dari beton milik O Liong dinilai lebih mempermudah masyarakat berpergian menuju panipahan,kubu,pulau halang maupun masyarakat dari desa sei besar.

“Jika tidak ada pelabuhan oliong masyarakat akan sangat kesulitan ketika berpergian menuju tempat tujuannya,"tandas Maruli. (AGS)

Rabu, 20 Maret 2013

Enam penderita Filariasis di sei daun.



>>Dua orang data lama dan empat orang pendataan baru

PALIKA,KABARROHIL-Meskinpun medan yang sulit dan jauh namun petugas kesehatan Panipahan, kecamatan pasir limau kapas (Palika) menempuhnya juga. Hal ini  untuk mendata dan menjajaki para penderita penyakit filariasis (kaki gajah,red) yang dilakukan pelacakan ke daerah kepenghuluan sei daun, Selasa (19/3/2013) kemaren.

“Setelah melakukan pelacakan ke kepenghuluan sei daun ada 6 penderita filariasis yang sudah tingkat kronis. Dua diantaranya Mentol dan Soleh sudah terdata sebelumnya oleh petugas kesehatan sedangkan empat termasuk data baru. Mereka rata-rata berusia diatas 40 tahun dan telah mengalami pembengkakan kaki,”ujar kapuskesmas panipahan dr Netty Juliana melalui telepon selulernya, Rabu (20/3/2013).

Netty mengatakan setelah menemui salah satu penderita filariasis tersebut, Majah (52) dan sempat berbincang-bincang dengannya. Dia (Majah,red) menyambut petugas kesehatan dengan ramah. Bahkan memperlihatkan kakinya yang sudah membengkak dialaminya.

“Menderita kaki bengkak sudah selama 20 tahun,”ujar Majah seperti yang dituturkan dr Netty Juliana kepada KABARROHIL.

Disebut dr Netty Juliana, Majah pernah berobat ke Rantau Prapat daerah asalnya sebelum mereka berdomisili di sei daun kecamatan pasir limau kapas. Namun tidak perubahan.

“Bahkan kami menawarkan agar dibawa untuk berobat ke puskesmas namun Majah saat itu masih merasa malu menunjukkan penyakit yang dideranya. Akhirnya kami beri penyuluhan dan kami jabarkan tentang perawatan dan pengobatan terhadap penderita filariasis ini. Akhirnya dirinya mau terbuka dengan para petugas dan merasa senang atas perhatian para petugas kesehatan terhadap dirinya,”tutur dr Netty menjelaskan.

Dikatakan oleh kepala UPTD kesehatan Panipahan ini, ke enam penderita filariasis (kaki gajah,red) tersebut dua diantaranya sudah didata sebelumnya yakni Mentol (56) menderita filariasis selama 25 tahun dan Soleh (52) menderita filariasis 15 tahun.

Sedangkan empat penderita filariasis yang baru terdata yakni  M.Ibrahin (43) menderita filariasis selama 13 tahun, Inur (53) menderita filariasis selama 20 tahun, andung Posah (63) menderita filariasis kedua kakinya selama 25 tahun dan Majah (52) menderita filariasis selama 20 tahun.

Dikatakan dr Netty, setelah ditemukan 6 penderita filariasis ini puihaknya terus menjajaki dan melakukan pelacakan langsung kedaerah-daerah lain di wilayah kecamatan pasir limau kapas melalui staff pustu. Sedangkan terhadap penderita filariasis yang ada diberikan obat dan diberikan pengarahan danpenyuluhan.

“Diberi obat 10 hari dan diajarkan tata cara membersihkan kaki yang bengkak dan berair tersebut,”pungkasnya. (AGR)