Jumat, 10 Desember 2010

Akibat faktor alam, Pembangunan Rumah Layak Huni Baru Capai 60 Persen

BAGANSIAPI-API ,KABARROHIL- Ternyata pembangunan rumah layak huni yang merupakan salah satu bentuk dari program pengentasan kemiskinan di semua daerah di wilayah Kabupaten Rohil, realisasinya baru mencapai sekitar 60 persen. Sedangkan di sisi lainnya, masa tahun anggaran 2010 dalam hitungan hari segera berakhir dan masuk dalam tahun anggaran 2011.

''Berkaitan dengan program pembangunan rumah layak huni, kami dari Badan Pemberdayaan Masyarakat (BAPEMAS) Kabupaten Rohil telah turun ke semua daerah. Kehadiran kita di daerah itu untuk melihat secara langsung bagaimana realisasi pelaksanaan pembangunan rumah layak huni,'' kata Kepala BAPEMAS Kabupaten Rohil, Drs H Zulkarnaen yang ditemui KABARROHIL, Kamis kemarin di Bagansiapi-api.

Dikatakan Zulkarnaen, dari kunjungan di semua daerah segera dilakukan evaluasi. Setelah dievaluasi, lanjutnya mengungkapkan ternyata realisasi pelaksanaan pembangunan rumah layak huni secara keseluruhan untuk wilayah Kabupaten Rohil baru mencapai sekitar 60 persen.


''Ada beberapa hambatan dan kendala di lapangan sehingga realisasi pelaksanaan pembangunan rumah layak huni itu baru mencapai 60 persen. Sebagian besar hambatannya karena oleh faktor alam,'' kata Zulkarnaen.

Salah satu diantaranya musim penghujan yang belakangan boleh dikatakan mengguyur di sejumlah daerah. Dengan faktor alam hujan tersebut akhirnya bisa menghambat pendistrubusian bahan-bahan bangunan dan dapat mengganggu kelancaraan pekerjaan.

''Intinya, lantaran faktor alam saja sehingga pencapaiannya belum terealisasi,'' terang Zulkarnaen.

Pengaruh kencangnya angin dan tingginya gelombang air laut juga merupakan salah-satu hambatan lainnya. Hambatan akibat faktor alam seperti angin dan gelombang laut tersebut umumnya terdapat di daerah-daerah pesisir pantai. Salah satu antaranya di sejumlah daerah di wilayah Kecamatan Pasirlimau Kapas (Palika).

''Waktu kita berkunjung di Kecamatan Pasirlimau Kapas, kondisinya memang seperti itu. Anginnya kencang dan gelombang tinggi. Sehingga pendistribusian bahan material, sulit dilakukan. Apalagi sarana untuk membawa material bangunan menggunakan jalur laut,'' tandasnya. (andi wrc)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar